Jakarta, 1 Januari 2013
Setelah melihat film “Malaikat Tanpa Sayap”, aku
menyadari ada 2 hal yang membuatku sangat lemah dan hal itu yang belum aku
punya yaitu ketenangan hati dan bahagia yang hakiki.
Sesuatu yang membuatku menangis dan berdo’a:
“Ya Allah, berilah aku ketenangan hati karena hanya
Engkaulah pemilik hati, yang membolak-balikkan hati manusia, yang
menciptakannya sebagai seonggok daging yang membuat keseluruhan dari pemiliknya
baik atau buruk, dan menjadi tanda pembeda hamba-Mu di sisi-Mu, sekaligus
penentu derajatnya di bawah keAgungan-Mu.
Ya Allah,berilah aku kebahagiaan yang hakiki seperti
yang Engkau janjikan, kebanyakan manusia telah membuatku kotor dan hanya Kau
yang mampu membersihkan diriku, aku ingin bersyahadat sekali lagi agar hatiku
tetap lurus di jalan-Mu. Filosofi kehidupan yang Kau berikan akan aku gunakan
untuk meraih bahagia, Insya Allah. Engkaulah pemilik rasa dalam hati, bahwa
Engkau pmilik Sunnah-Mu, maka tiada yang hidup selain dengan izin-Mu.
Sesungguhnya tiada lain yang layak ditakuti dan ditangisi selain Engkau Ya
Allah. Buatlah tangisan ini sebagai jembatan antara aku dengan-Mu. Amin.
Mungkin hanya itu yang paling kuharapkan (ketenangan
hati dan kebahagiaan yang hakiki). Aku hanya ingin Engkau mengizinkanku
meneteskan air mata dalam tahajudku dan memberi kemampuan untuk shaum seperti
utusan-Mu Daud A.S.(DAVID PROPHET)
Aku berterima kasih sgt besar dengan namamu yang telah
mengabulkan do’a-do’aku di waktu lampau. Karena itu aku akan terus berdo’a dan
berdo’a hingga aku jenuh berdo’a pada-Mu sampai kering air mataku meskipun tak
jarang aku merasa kecewa pada-Mu akhir-akhir ini.”
Dari film tadi saya menyadari kalau bahagia dating
bukan karena ego kita, tapi karena kita melihat orang yang kita cinta senang.
Dan meskipun alur ceritanya sebagian sudah bias saya tebak, tapi tetap akhir
dari ceritanya tak bias ditebak. Hikmahnya dari film itu adalah “Belajarlah
memahami orang yang kita cintai, bukan menunggu/berharap agar mereka memahami
kita”
-Maaf untuk teman wanitaku yang pernah (sering) saya
sebut “aneh, tapi biar lau senang sekarang saya bilang kalau kau cantik.
-Maaf juga untuk teman semeja saya yang sering saya
singgung karena saya bilang Biologi itu
gak eksak sebenarnya secara bijak harusnya begini “Sebenarnya usaha manusia
sebesar apapun tidak akan bisa menjelaskan segala sesuatu menjadi 100% eksak,
tapi selama ketidak eksakannya masih kecil dan dapat ditolerir maka itu masih
layak disebut eksak. Seperti buah apel yang busuk sedikit masih layak untuk
dimakam.”
Ini adalah puisi karya saya untuk hari ini:
Pencari
Bahagia
Sungguh’
Kering hati
Takkan menutup
Busungnya hari ini
Tiada hikayat
Tak Kau tahui
Aku ingin Kau buka sekat
Antara aku dengan-Mu
Aku bercerita disini
Tiad sebab aku tak mengadu
Karena kulihat tanda-Mu, tlah kubuktikan
Tak peduli ku mati
Asal Kau meridhoi
Darah ini, tulang ini, kuserahkan pada-Mu
Asal itu mau-Mu
Akan kupenuhi
BahagiaMu adalah bahagiaku jua
TAk Berujung ABADI
Herry F.R.