Rabu, 02 Januari 2013

HIKMAH SEBUAH FILM

Jakarta, 1 Januari 2013

Setelah melihat film “Malaikat Tanpa Sayap”, aku menyadari ada 2 hal yang membuatku sangat lemah dan hal itu yang belum aku punya yaitu ketenangan hati dan bahagia yang hakiki.

Sesuatu yang membuatku menangis dan berdo’a:
“Ya Allah, berilah aku ketenangan hati karena hanya Engkaulah pemilik hati, yang membolak-balikkan hati manusia, yang menciptakannya sebagai seonggok daging yang membuat keseluruhan dari pemiliknya baik atau buruk, dan menjadi tanda pembeda hamba-Mu di sisi-Mu, sekaligus penentu derajatnya di bawah keAgungan-Mu.

Ya Allah,berilah aku kebahagiaan yang hakiki seperti yang Engkau janjikan, kebanyakan manusia telah membuatku kotor dan hanya Kau yang mampu membersihkan diriku, aku ingin bersyahadat sekali lagi agar hatiku tetap lurus di jalan-Mu. Filosofi kehidupan yang Kau berikan akan aku gunakan untuk meraih bahagia, Insya Allah. Engkaulah pemilik rasa dalam hati, bahwa Engkau pmilik Sunnah-Mu, maka tiada yang hidup selain dengan izin-Mu. Sesungguhnya tiada lain yang layak ditakuti dan ditangisi selain Engkau Ya Allah. Buatlah tangisan ini sebagai jembatan antara aku dengan-Mu. Amin.
Mungkin hanya itu yang paling kuharapkan (ketenangan hati dan kebahagiaan yang hakiki). Aku hanya ingin Engkau mengizinkanku meneteskan air mata dalam tahajudku dan memberi kemampuan untuk shaum seperti utusan-Mu Daud A.S.(DAVID PROPHET)

Aku berterima kasih sgt besar dengan namamu yang telah mengabulkan do’a-do’aku di waktu lampau. Karena itu aku akan terus berdo’a dan berdo’a hingga aku jenuh berdo’a pada-Mu sampai kering air mataku meskipun tak jarang aku merasa kecewa pada-Mu akhir-akhir ini.”

Dari film tadi saya menyadari kalau bahagia dating bukan karena ego kita, tapi karena kita melihat orang yang kita cinta senang. Dan meskipun alur ceritanya sebagian sudah bias saya tebak, tapi tetap akhir dari ceritanya tak bias ditebak. Hikmahnya dari film itu adalah “Belajarlah memahami orang yang kita cintai, bukan menunggu/berharap agar mereka memahami kita”

-Maaf untuk teman wanitaku yang pernah (sering) saya sebut “aneh, tapi biar lau senang sekarang saya bilang kalau kau cantik.
-Maaf juga untuk teman semeja saya yang sering saya singgung karena saya bilang Biologi  itu gak eksak sebenarnya secara bijak harusnya begini “Sebenarnya usaha manusia sebesar apapun tidak akan bisa menjelaskan segala sesuatu menjadi 100% eksak, tapi selama ketidak eksakannya masih kecil dan dapat ditolerir maka itu masih layak disebut eksak. Seperti buah apel yang busuk sedikit masih layak untuk dimakam.”

Ini adalah puisi karya saya untuk hari ini:
Pencari Bahagia
Sungguh’
Kering hati
Takkan menutup
Busungnya hari ini

Tiada hikayat
Tak Kau tahui
Aku ingin Kau buka sekat
Antara aku dengan-Mu

Aku bercerita disini
Tiad sebab aku tak mengadu
Karena kulihat tanda-Mu, tlah kubuktikan

Tak peduli ku mati
Asal Kau meridhoi
Darah ini, tulang ini, kuserahkan pada-Mu

Asal itu mau-Mu
Akan kupenuhi
BahagiaMu adalah bahagiaku jua
TAk Berujung ABADI

Herry F.R.


             

Entri Populer

Pengikut