TENTANG
CINTA (PART 1)
Tentang cinta, sangat menarik jika kita membahas hal
ini. Kebanyakan orang hanya merasakancinta namun tidak mengerti apa itu cinta.
Sebagai seorang manusia yang dikaruniai akal oleh Sang Pencipta seharusnya kita
menggunakannya dalam kehidupan ini. Pertanyaan mengenai cinta akan lebih seru
untuk seseorang yang sudah beranjak dewasa atau remaja seperti yang membaca
tulisan ini (ayo ngaku), secara sadar saya menyadari bahwa remaja adalah masa
transisi, masih sangat perlu belajar dan memahami masalah tentang cinta. Kalau
orang dewasa gak akan terlalu peduli tentang tulisan ini, kalau remaja seperti
kamu pasti nge-search di google terus ketemu tulisan ini. Dalam psikologi cinta
memiliki penempatan penting karena selalu menjadi pertimbangan saat dia akan
melakukan sesuatu hal pada orang yang ia cintai. Ok, tadi baru prolog ini baru
intinya.
Mengenai cinta banyak sekali penafsiran mengenai satu
kata itu “cinta”.Semua orang berusaha menafsirkan kata ini, mulai dari yang
awam sampai yang berilmu sekalipun. Para filsuf terdahulu selalu mencoba
menafsirkan kata ini. Karena memang semua manusia turut membutuhkan dan juga
merasakan apa yang disebut “cinta”, sehingga ketika cinta menjadi kebutuhan
kita harus perlu tahu apa itu “cinta”.
Kita bisa melihat kebanyakan orang menafsirkan cinta
seperti apa yang ada di film-film Romantisme yang berasal dari kaum berideologi
Liberalis yang senantiasa menunjukkan bahwa “Love Is Everything”. Namun bila
kita hayati semua film itu menunjukkan cinta sebagai posisi terendah yaitu
nafsu yang dibawa sifat materialistis.(Kalau kalian sadari film itu sering
ditonton oleh remaja saat ini, paling banyak di SCTV(baca FTV)). Tapi pemahaman
cinta seperti ini adalah salah dan keliru, kita harus kembali memposisikan
cinta kepada posisinya yang tertinggi yaitu sebagai sifat yang membawa kepada
kebahagiaan sesungguhnya bukan materialistis semata.
Menurut saya “cinta” memiliki makna khusus secara
bahasa yaitu menyukai. Lebih tepatnya ini adalah perasaan dari Sang Khaliq
untuk bekal manusia memimpin dan menjaga dunia ini. Karena itu Sang Pencipta
Cinta pasti memiliki tujuan dan aturan mengenai “cinta”. Dalam psikologi
Sigmund Freud saya kurang setuju dengan bagaimana cara dia mendefinisikan rasa
“cinta”. Karena apabila “cinta” dimasukkan ke dalam “id” (hawa nafsu), maka
akan terjadi hal seperti apa yang telah saya jelaskan di atas. Dan itu akan
membuat hancur bagi seluruh makhluk semesta alam di dunia ini.
Saya lebih menyetujui filosofi cinta yang dituturkan
oleh Ibnu Al-Jauzi At-Taimiyyah, seorang filsuf muslim yang paling sering
membahas masalah cinta dalam buku-bukunya. Cinta memang bisa berasal dari
nafsu, tapi sebaik-baiknya cinta adalah yang berasal dari nurani, hati yang
tulus dan tidak untuk niat melanggar aturan Sang Pencipta Cinta itu sendiri.
Dan untuk menutup bagian pertama ini saya berikan anda
sebuah kalimat:
“Sebaik-baiknya cinta adalah karena Allah, dan Cinta
yang paling utama adalah kepada-Nya… Maka jangan sekali-kali melebihkan cintamu
kepada orang lain melebihi cintamu pada-Nya.”(Penulis)
(To Be Continued)