Kamis, 03 Januari 2013

TENTANG CINTA PART.1


TENTANG CINTA (PART 1)
Tentang cinta, sangat menarik jika kita membahas hal ini. Kebanyakan orang hanya merasakancinta namun tidak mengerti apa itu cinta. Sebagai seorang manusia yang dikaruniai akal oleh Sang Pencipta seharusnya kita menggunakannya dalam kehidupan ini. Pertanyaan mengenai cinta akan lebih seru untuk seseorang yang sudah beranjak dewasa atau remaja seperti yang membaca tulisan ini (ayo ngaku), secara sadar saya menyadari bahwa remaja adalah masa transisi, masih sangat perlu belajar dan memahami masalah tentang cinta. Kalau orang dewasa gak akan terlalu peduli tentang tulisan ini, kalau remaja seperti kamu pasti nge-search di google terus ketemu tulisan ini. Dalam psikologi cinta memiliki penempatan penting karena selalu menjadi pertimbangan saat dia akan melakukan sesuatu hal pada orang yang ia cintai. Ok, tadi baru prolog ini baru intinya.
Mengenai cinta banyak sekali penafsiran mengenai satu kata itu “cinta”.Semua orang berusaha menafsirkan kata ini, mulai dari yang awam sampai yang berilmu sekalipun. Para filsuf terdahulu selalu mencoba menafsirkan kata ini. Karena memang semua manusia turut membutuhkan dan juga merasakan apa yang disebut “cinta”, sehingga ketika cinta menjadi kebutuhan kita harus perlu tahu apa itu “cinta”.

Kita bisa melihat kebanyakan orang menafsirkan cinta seperti apa yang ada di film-film Romantisme yang berasal dari kaum berideologi Liberalis yang senantiasa menunjukkan bahwa “Love Is Everything”. Namun bila kita hayati semua film itu menunjukkan cinta sebagai posisi terendah yaitu nafsu yang dibawa sifat materialistis.(Kalau kalian sadari film itu sering ditonton oleh remaja saat ini, paling banyak di SCTV(baca FTV)). Tapi pemahaman cinta seperti ini adalah salah dan keliru, kita harus kembali memposisikan cinta kepada posisinya yang tertinggi yaitu sebagai sifat yang membawa kepada kebahagiaan sesungguhnya bukan materialistis semata.

Menurut saya “cinta” memiliki makna khusus secara bahasa yaitu menyukai. Lebih tepatnya ini adalah perasaan dari Sang Khaliq untuk bekal manusia memimpin dan menjaga dunia ini. Karena itu Sang Pencipta Cinta pasti memiliki tujuan dan aturan mengenai “cinta”. Dalam psikologi Sigmund Freud saya kurang setuju dengan bagaimana cara dia mendefinisikan rasa “cinta”. Karena apabila “cinta” dimasukkan ke dalam “id” (hawa nafsu), maka akan terjadi hal seperti apa yang telah saya jelaskan di atas. Dan itu akan membuat hancur bagi seluruh makhluk semesta alam di dunia ini.

Saya lebih menyetujui filosofi cinta yang dituturkan oleh Ibnu Al-Jauzi At-Taimiyyah, seorang filsuf muslim yang paling sering membahas masalah cinta dalam buku-bukunya. Cinta memang bisa berasal dari nafsu, tapi sebaik-baiknya cinta adalah yang berasal dari nurani, hati yang tulus dan tidak untuk niat melanggar aturan Sang Pencipta Cinta itu sendiri.
Dan untuk menutup bagian pertama ini saya berikan anda sebuah kalimat:
“Sebaik-baiknya cinta adalah karena Allah, dan Cinta yang paling utama adalah kepada-Nya… Maka jangan sekali-kali melebihkan cintamu kepada orang lain melebihi cintamu pada-Nya.”(Penulis)
(To Be Continued)

Entri Populer

Pengikut