ANXIETAS PENYAIR
buat:
joko supardi
sepertinya, kau rasakan juga dingin ini sebagai simbol kenangan
kita,
sebagaimana
telah dirayakan kekalahan-demi kekalahan yang menikami
tubuh.
dan berderailah tawa atau tangis, karena airmata tetap membasah
pada
pelupuk mata. usahlah lagi ditanyakan untuk apa kita di sini,
menikmati
hari-hari membisu atau hiruk pikuk yang menggedor-gedor kepala
dan
dada. anxietas yang menggigilkanmu telah menciptakan cerita-cerita
dalam
pertemanan ganjil. sebagai seorang pertapa namun hendak
menyetubuhi
bintang dan rembulan. memanggil bapak dan ibu dengan
keparauan
kanak. kesunyian yang tak dimengerti artinya. juga sebuah
cita-cita?
KOMEDI PUTAR
bermainlah kanak pada keriangan,
hidup
berputaran atas bawah nikmatilah,
kenangkan
kuda dipacu penuh semangat,
pada
padang di mana umbu menulis syair,
tertawalah kanak,
sebelum
permainan berakhir,
sebelum
lampu-lampu dimatikan,
sebelum
tersuruk engkau di bawah matahari
HITUNGAN KEDUA PULUH EMPAT
hitungan ke dua puluh empat: melompat!
memasuki
ruang menaiki waktu yang melaju.
tak direnungkan jugakah catatan-catatan yang begitu tebal.
telah
ditulis disitu ungkapan-ungkapan kejujuran,
atau
juga kepalsuan menipu diri sendiri.
karena kecewa butuh penghiburan,
karena
sedih butuh ditumpahkan,
karena
tawa butuh dituntaskan.
siap-siap...
hitungan
ke dua puluh empat: melompat!
jangan
lupa di depanmu ada menganga liang lahat
MENEMUI ALDORA SUATU KETIKA
di mana kan lagi ditemukan percakapan sore hari, ketika aldora
menyelinap
ke dalam lukisan seorang perempuan mencari bapak, dengan
senyum,
menyimpan pedih kerinduan mewarna langit, dengan jemari
dipulaskan
cerita getir bertahun tak berjumpa, ke mana pergi pelukis
yang
membelai rambut kanak?
sambil tersenyum aldora bilang padaku: "aku ingin pergi
mengelilingi
dunia,
menjelajahi sudut-sudut ruang, dimana kan ditanggalkan segala
kepura-puraan"
tergerai rambut sebahu, menatap matahari dengan senyum, simpan
kegundahan
dalam-dalam...
disimpan jugakah cerita itu. dalam dada laki-laki. perempuan
yang
berharap,
memanggilnya dengan kerinduan. karena cita-cita yang dibangun
menjelang
tidur, menyimpan tangis pada malam. mimpi yang diciptakan
dihempaskan
ke mana lagi?
dan buku mana yang harus disembunyikan, karena kejujuran telah
dituliskan.
sebuah nama pada masa lalu seorang lelaki, yang
menyimpannya
dengan diam-diam. seperti juga cinta dan rindu yang tak
tersampaikan,
ke mana air mata itu hendak dialirkan. karena kegetiran
telah
menjadi batuan dalam rumah sejarah manusia. menyumpal dalam
dada....
KONTEMPLASI
seru menyeru dalam dada
kejujurankah
yang bicara?
katamu: "manusia adalah makhluk segala kemungkinan"
terlempar aku ke dalam ruang kosong tak berpenghuni
merasa
asing membaca diri
diamlah diam
rasakan
semesta meledak dalam kepala
berjuta tanya
berjuta
jawab
kembali
pada diri sendiri....
DENTING GITAR MENGOYAK MALAM
masihkah tersimpan sejumput kerisauan,
denting
gitar mengoyak keheningan,,
di malam kita terjaga, terasa gema dalam dada,
bercerita
apa, teman? sepertinya hanya pertanyaan-pertanyaan tak
beralamat,
pada siapa kan disampaikan jerit yang begitu parau, dari gitar
putus dua
senarnya,
adakah
pada angin yang mengendap di lorong gelap, pada dingin yang
menusuk-nusuk,
pada siapakah hendak kau sampaikan?
hanya wajah yang terlihat setengah gelap setengah terang,
sepotong
wajah rasakan nyeri memendam ngeri,
dalam
dada terasa sunyi,
ke mana suara itu kan sampai,
wahai
siapa lagi yang peduli?
IN MEMORIUM
melambaikan senja padamu.
bersama
air mata yang terasa asin di bibir.
mata
yang berkaca. melewati jendela
menatap
kematian
dengan
begitu bersahaja.
amboi, langkah ini hendak menuju ke mana.
selain
menjejak pada kemungkinan hari-hari penuh kegelisahan,
kehampaan
dan kesunyian diri sendiri.
meraba
kegelapan yang melumuri isi kepala.
kereta warna hitam yang kau sorongkan melewati pelataran. yang
begitu lengang. tawarkan sebuah kenangan di masa lalu.
ketika
kehidupan baru di hembuskan ke dalam dadamu...
bikin
perjanjian untuk kembali pada asal mulamu, anak manusia.
sepertinya tak ada yang patut ditangiskan.
selain
mengaca pada hari yang penuh warna dan cerita penuh deru di masa lalu.
(Tuhan,
aku hantarkan doa melewati senja ini)
WAHAI ENGKAU YANG MENATAP
Seorang manusia mencari jalan hidupnya
Memetakan
langit
Mencari
jawab: siapakah aku, siapakah engkau?
Wajah pada bayang-bayang membusur
Dari
masa lalu sebuah kesaksian
Begitu
samar
Antara
hari berselang
Sebuah tatapan, tak pernah gugur
Menyentuh
kedalaman
Rongga
dada
Berbisiklah, berbisik, manusia yang mencari jawab:
"Engkau
yang begitu samar dalam ingatan
kusapa
dalam doa,
juga
dosa"
begitu
lindap
SANG PENGAWAS AGUNG
Ada yang begitu seksama memperhatikan segala tindak-tanduk,
gemetaranlah
aku
menghitung detik-detik perhitungan yang muncul di pelupuk mata,
menelanjangiku
dengan sangat polos dan bugil, memeriksa bulu demi bulu,
daki
demi daki yang menempel, pada tangan, pada kaki, sedang mulut
dibiarkan
diam; dengan begitu bening dan jujur: mereka menjadi saksi
sebuah
pengkhianatan...
MENCATAT NAMAMU
Dalam hati masih ada kegundahan itu
Secara
perlahan membakar angan
Dalam sunyi mengingat wajahmu,
berderai
potret pecah
terbanting
tangan-tangan waktu
Begitu kukuh memisahkan kekinianku
dengan
cerita dulu
Engkaukah itu,
yang
bercakap dalam gemerisik angin meniup daunan.
Kabarkan sesuatu entah kebencian atau kecintaan?
Berayun angan menari
dalam
jagat semesta pertanyaan
Begitu samar
Begitu
samar
Namamu yang terbubuh
dalam
kabut yang melulur keheningan.
ALDORA MELUKIS KOTA (1)
aldora melukis kota, jemarinya memulas cat hitam dan merah pada
kanvas yang lusuh,
ada
kegusaran yang memusar, pada wajah
"mengapa rusuh juga yang membakar kota-kota?"
kau mau minum kopi aldora? atau sebatang rokok
mungkin
bisa hilangkan pening dalam kepala
aldora melukis kota, juga manusia tak jelas wajahnya merah hitam
dipulasnya, dicampur baur, mungkin sebentuk luka
tanganmu kotor, aldora jemari halus dan kuku putih tak berupa
:mengapa
luka?
"mengapa bukan cinta!"
ALDORA MELUKIS KOTA (2)
aldora melukis kota. dengan jemarinya ia guratkan kota yang
telah berubah. wajah-wajah manusia yang muram.
"berapa banyak rumah yang harus ditumbangkan, dora? berapa
sawah berubah menjelma rumah mewah?"
kau tak menjawabnya dengan kata-kata. karena apa? (takutkah
engkau untuk mengatakannya dengan mulutmu?)
aldora melukis kota. warna-warna memar tumpah ruah di kanvas.
meledak juga tangisnya di lukisan kota yang terbakar!
PRIBADI YANG TERBELAH
bercakap sebagai karib yang selalu menghinakan satu sama lain
melecehkan,
bertempur dalam ruang dan waktu: diri!
ada berapa kepribadian yang hadir pada dirimu?
bertolak
belakang paradoksal
atau
saling melengkapi sebagai harmoni
sekular atau tak
dikotomis
atau bukan
engkau hadir mencoba untuk tidak goyah, utuh mengatakan pada
dunia
tapi tak bisa
senantiasa
ada dialektik
senantiasa ada keinginan-keinginan manusia
yang
tak terpadamkan , sepertinya.....
SESEORANG YANG HENDAK MELUKIS
ada seraut wajah mencoba menyelinap ke dalam mimpiku sunyi,
o,
kegundahan seorang lelaki membaca tanda-tanda
:
siapakah yang telah merenggut hati?
kemudian, angan beterbangan menari-nari menuju cakrawala
ingin
melukis serupa pelangi,
atau
bunga-bunga yang bermekaran
atau
ketakutan
atau
mimpi-mimpi
(wahai, tangan yang gemetar, hati yang gemetar...
hendak
melukis apa?)
mungkin hanya impian,
sekedar
harapan di ujung malam
tak ada
jawaban pasti!
POTRET
di mana
kan
dijejakkan kaki?
orang sendiri membaca diri
pada
sunyi dipahatkan mimpi
menggeleparlah ia pada sepi
menuai
kenangan-kenangan
menusuk
ke lubuk hati
dalam puisi, sepertinya....
hanya
sunyi
hanya
sepi
hanya
mimpi
terbubuh
lewat jemari
orang sendiri membaca diri
tak
henti-henti
ALBUM KENANGAN
bayang kenangan menderu
memasuki
ruang-ruang kosong dalam dada
sebagai
kebahagiaan atau kesedihan
karena
masing-masing kita mempunyai masa lalu
sebagai
sejarah yang ditulis pada buku waktu
tak
usahlah risau membacanya lagi
kenangan, kenyataan serta harapan
adalah
milik kita
ia
hadir sepanjang usia, rentangan waktu
"namun kau teramat larut pada masalalu,
sebagai
kenangan yang memusar,
menenggelamkan
dirimu pada kesedihan yang mendalam
sedang
masa kini hadir sebagai kenyataan yang tak terelakan
dan
masa depan membuka cakrawala harapan"
SILHUET PANORAMA
dari kelampauan yang buram, tak ada tersisa airmata
diseka
waktu, mungkin hanya gurau, sebuah entah
tapi bayang itu datang, mengekalkan
sunyi,
barangkali milikmu, cuma
sebagai buku terbuka, atau kerdipan mata
pembacaan
isyarat tanda, mungkin sebuah wacana
gerutuan
lepas, namun
mimpi yang terbubuh tak niscaya menjelma, sebuah idea
(gapaian
tanganmu mungkin letih ingin menjamahnya….)
terantuk pandang pada nyata, walau menari juga
segala
yang mungkin ingin dikenang
SANG PEJALAN
berapa panjang jalan yang disusur,
pejalan
merengkuh angin,
mungkin
sebuah ingin,
galau
yang tersisa
dari
sebuah jeda,
tanya dan jawab,
makna dari
keburaman rahasia
mencari
telaga,
bening
mata,
lunaskan
dahaga
matahari,
rembulan,
gemintang,
kegelapan,
keremangan,
waktu,
usia,
menjelma
dalam pusaran
ilusi
atau nyata
"sebuah takdir atau kehendak bebas?", katanya
menatap
langit,
mengayun
juga kakinya,
menuju
"apa"