Senin, 04 Juli 2016

The Diary of Melancholy Part 2

The Diary of Melancholy Part 2
“Kegalauan Bus Kota”

Sumber: blog sebelah

Notes: Bagian ini adalah lanjutan dari Part 1

Dari dalam bus terlihat ramainya penampakan kota Depok di pinggiran. Hilir mudik kendaraan memadati sudut kota, mirip seperti di Jakarta. Ini adalah kali pertamaku merasakan nuansa kota Depok, yang sebelumnya hanyalah sebagai kota transit untuk pergi ke daerah wisata di Jawa Barat. Kalau diperhatikan kota ini tidak semenarik Bandung dan Jakarta. Tetapi nuansa metropolitan di kota ini cukup mengingatkanku akan betapa banyaknya kenangan manis yang tersimpan di Jakarta.

Sunyi dan senyap penumpang bus menggambarkan jiwa-jiwa yang bersemangat namun terpaksa mengalah dengan lelahnya perjalanan. Bahkan ada yang tertidur pulas sampai-sampai mengorok di kursi belakang. Mungkin jika ini adalah bus kampus dan yang tertidur pulas itu adalah temanku, sudah kurekam videonya dengan judul dengkuran sapi idul adha. Aku sampai tertawa membayangkan jika itu benar-benar terjadi, pasti nge-hits di kampus.

“Tok..  Tok..  Margonda, margonda..!” Suara kenek setelah mengetok-ngetok dinding bus.
Suara pendamping setia si supir dengan lantang menggelegar ke seluruh penjuru bus. Terlihat beberapa kali muka-muka mengantuk penumpang terbangun dan memberikan sinyal penasaran dengan suara kenek bus. Ada yang bangun dan melihat sebentar, ada yang bingung dan bertanya ke penumpang di kursi sebelah, namun setelah itu tidur lagi. Memang suara kenek bus paling efektif untuk membangunkan orang, mungkin kalau jadi muazin shubuh cukup mumpuni asalkan yang bangun tidak tidur lagi.

Si kenek memberitahukan bahwa sebentar lagi akan sampai di Margonda. Margonda adalah tempat dimana hutan kota berada dan tepatnya bersebelahan dengan kampus Depok. Aku pun bersiap-siap menyambut kampus tetangga atau mengacak-acak kampus tetangga demi mengisi liburan sepi ini. Aku maju ke bagian peron depan untuk turun dari bus.

Seketika itu aku merasakan hamparan hawa panasnya kota Depok yang terbalut bau knalpot kendaraan. Suasananya sangat jauh berbeda dibandingkan dengan kota Bandung. Sekarang sudah pukul enam belas tapi terasa seolah seperti jam dua belas siang di Bandung.

“Tok.. Tok.. Lanjuut.. !” Suara kenek bus untuk pergi. Memang sepertinya selalu ada ketukan sebelum bicara adalah kelakukan standar kenek bus.

Aku turun dan berjalan kaki sebentar di pinggir hutan kota sembari merekam dengan kamera tiga puluh dua mega piksel hasil pinjaman. Karena nampaknya tidak mungkin anak kosan sepertiku membeli kamera hanya untuk liburan, setiap hari saja makan pas-pasan. Aku melihat jam tanganku dan baru ingat bahwa sekarang sudah lewat waktu ashar aku segera mencari masjid dan bertanya ke seorang bapak-bapak di trotoar.

“Masjid kampus paling dekat dimana ya, Pak?”
“Lurus aja..  Nanti juga keliatan..” kata si bapak.

Aku berjalan lurus dan mengikuti arahan bapak tersebut dan saat perjalanan aku melihat hal yang tak terduga. Jantungku deg-degan melihat seorang wanita di dekat pelataran masjid. Sepertinya aku mengenalinya, apakah mungkin dia ada di sini? Aku perlahan memberanikan langkahku dan mencoba untuk menyapa. Meskipun kenyataan bahwa jantung ini berdetak layaknya genderang perang. Dengan pasti aku meyakinkan diri untuk menyapanya, perlahan demi perlahan.

Dia mengenakan kerudung merah muda dan sedang bersama dengan teman-temannya. Tapi apakah itu dia, atau aku hanya berhalusinasi? Sepertinya tidak mungkin. Meskipun hanya dari kejauhan aku melihat wajahnya, aku seperti merasakan dunia yang lain di kala senja. Mungkin ini adalah takdir atau mungkin ilusi?


(Bersambung Part. 3)

Entri Populer

Pengikut