The Diary of
Melancholy Part 2
“Kegalauan Bus
Kota”
Sumber: blog sebelah
Dari dalam bus terlihat ramainya penampakan kota Depok di
pinggiran. Hilir mudik kendaraan memadati sudut kota, mirip seperti di Jakarta.
Ini adalah kali pertamaku merasakan nuansa kota Depok, yang sebelumnya hanyalah
sebagai kota transit untuk pergi ke daerah wisata di Jawa Barat. Kalau
diperhatikan kota ini tidak semenarik Bandung dan Jakarta. Tetapi nuansa
metropolitan di kota ini cukup mengingatkanku akan betapa banyaknya kenangan manis
yang tersimpan di Jakarta.
Sunyi dan senyap penumpang bus menggambarkan jiwa-jiwa
yang bersemangat namun terpaksa mengalah dengan lelahnya perjalanan. Bahkan ada
yang tertidur pulas sampai-sampai mengorok di kursi belakang. Mungkin jika ini adalah bus kampus dan yang tertidur pulas itu adalah temanku, sudah kurekam videonya
dengan judul dengkuran sapi idul adha. Aku sampai tertawa membayangkan jika itu
benar-benar terjadi, pasti nge-hits di kampus.
“Tok.. Tok.. Margonda, margonda..!” Suara kenek setelah
mengetok-ngetok dinding bus.
Suara pendamping setia si supir dengan lantang
menggelegar ke seluruh penjuru bus. Terlihat beberapa kali muka-muka mengantuk
penumpang terbangun dan memberikan sinyal penasaran dengan suara kenek bus. Ada
yang bangun dan melihat sebentar, ada yang bingung dan bertanya ke penumpang di
kursi sebelah, namun setelah itu tidur lagi. Memang suara kenek bus paling
efektif untuk membangunkan orang, mungkin kalau jadi muazin shubuh cukup
mumpuni asalkan yang bangun tidak tidur lagi.
Si kenek memberitahukan bahwa sebentar lagi akan sampai
di Margonda. Margonda adalah tempat dimana hutan kota berada dan tepatnya bersebelahan
dengan kampus Depok. Aku pun bersiap-siap menyambut kampus tetangga atau
mengacak-acak kampus tetangga demi mengisi liburan sepi ini. Aku maju ke bagian
peron depan untuk turun dari bus.
Seketika itu aku merasakan hamparan hawa panasnya kota
Depok yang terbalut bau knalpot kendaraan. Suasananya sangat jauh berbeda
dibandingkan dengan kota Bandung. Sekarang sudah pukul enam belas tapi terasa
seolah seperti jam dua belas siang di Bandung.
“Tok.. Tok.. Lanjuut.. !” Suara kenek bus untuk pergi.
Memang sepertinya selalu ada ketukan sebelum bicara adalah kelakukan standar
kenek bus.
Aku turun dan berjalan kaki sebentar di pinggir hutan
kota sembari merekam dengan kamera tiga puluh dua mega piksel hasil pinjaman.
Karena nampaknya tidak mungkin anak kosan sepertiku membeli kamera hanya untuk
liburan, setiap hari saja makan pas-pasan. Aku melihat jam tanganku dan baru
ingat bahwa sekarang sudah lewat waktu ashar aku segera mencari masjid dan
bertanya ke seorang bapak-bapak di trotoar.
“Masjid kampus paling dekat dimana ya, Pak?”
“Lurus aja.. Nanti
juga keliatan..” kata si bapak.
Aku berjalan lurus dan mengikuti arahan bapak tersebut
dan saat perjalanan aku melihat hal yang tak terduga. Jantungku deg-degan
melihat seorang wanita di dekat pelataran masjid. Sepertinya aku
mengenalinya, apakah mungkin dia ada di sini? Aku perlahan memberanikan
langkahku dan mencoba untuk menyapa. Meskipun kenyataan bahwa jantung ini
berdetak layaknya genderang perang. Dengan pasti aku meyakinkan diri untuk
menyapanya, perlahan demi perlahan.
Dia mengenakan kerudung merah muda dan sedang bersama
dengan teman-temannya. Tapi apakah itu dia, atau aku hanya berhalusinasi?
Sepertinya tidak mungkin. Meskipun hanya dari kejauhan aku melihat wajahnya,
aku seperti merasakan dunia yang lain di kala senja. Mungkin ini adalah takdir
atau mungkin ilusi?
(Bersambung Part. 3)