Saya sebagai peserta UN SMA 2013 merasa menjadi kelinci
percobaan.
Memang, ketika masa-masa sebelum UN saya menganggap adalah
suatu hal yang baik jika UN dibuat 20 paket soal dengan tanpa menggunakan kode
soal yang kini diganti dengan barcode. Hal demikian mungkin akan menaikkan
tingkat keobyektifan hasil UN yang diraih setiap siswa. Sehingga, seharusnya
bocoran UN tak bisa diandalkan dan sangat sulit untuk menyontek. Pasalnya,
dalam satu ruang ujian yang berisi 20 paket soal berbeda hanya ada 20 peserta
UN, ini berarti setiap peserta dalam satu ruangan memiliki soal yang
berbeda-beda.
Tetapi pada akhirnya saya merasa UN tahun ini merupakan UN terburuk yang pernah saya ikuti.
Ada banyak hal yang bisa membuat hasil UN tahun ini tidak
fair atau terjadi kecurangan.
1.
Pendistribusian soal yang tidak tepat waktu
Pendistribusian soal yang tidak tepat waktu
menyebabkan adanya beberapa kota yang tidak mengikuti jadwal UN seperti
seharusnya. Ini saya ketahui pertama kali saat saya menonton berita di TV pada
H-2 UN. Terdapat keterlambatan distribusi soal ke beberapa rayon di kota-kota
kecil, terutama soal UN SMA. Hal ini
menurut Menteri pendidikan Moh. Nuh dapat diatasi dengan merubah jadwal UN hari
senin untuk SMA menjadi hari jumat. Namun akhirnya, penundaan itu hanya terjadi
di kota-kota yang belum terdistribusikan saja. Sementara kota saya (Jakarta)
tetap mengikuti jadwal UN seperti semestinya. Sekali lagi Menteri Pendidikan
mengatakan bahwa tidak akan ada kebocoran soal, karena soal tidak menggunakan
kode tapi menggunakan barcode. Tapi jelas ini sangat keliru, karena saya bisa
menghitung kode soal melalui kode tepi kanan soal.
2.
Barcode yang bisa jadi blunder
Saya berhasil menemukan bagaimana cara
membaca kode soal. Pertama-tama hiraukan
saja barcode yang ada. Kita lihat kode cetak pada tepi kiri front pertama
lembar soal, di sana tertulis IPA SA 55 (kode 55 berbeda tergantung soal yang
didapat). Ini berarti karena ada 20 paket soal, kita mendapatkan paket nomor 15
dengan rumus 20n+k (di mana k merupakan kode soal yang kita dapat). Sepengetahuan
saya dimanapun soal dengan kode cetak yang sama pasti memiliki isi yang sama.
Sehingga akan semakin mudah menebak anda mendapat paket ke berapa?. Masalah
soal yang diberikan terserah pengawas tidak terlalu penting jika kita sudah
tahu kode soal yang kita dapat.
3.
Pemilihan soal yang kurang berkualitas
Karena terlalu banyaknya paket yang
diujikan membuat banyak soal-soal yang tidak bermutu lolos seleksi. Padahal,
ini akan mempengaruhi tingkat stress yang dialami siswa.
Berikut saya paparkan:
a.
Pada mata ujian Bahasa Indonesia terdapat
beberapa soal yang memiliki jawaban lebih dari satu, dimana kalimatnya berbeda
tetapi maksudnya sama saja.
b.
Pada soal Bahasa Inggris juga terdapat kesulitan
terutama pada listening section yang kurang jelas tiap katanya.
c.
Pada soal eksak pun seperti matematika dan
fisika terdapat soal yang tidak memiliki jawaban atau hasilnya tidak tersedia
pada pilihan ganda.
d.
Untuk soal kimia dan biologi saya belum bisa
komentar karena belum diujikan.
4.
Dugaan Korupsi Dana UN
Masalah kegagalan percetakan yang membuat
UN tidak berjalan dengan sempurna, menimbulkan satu tanda tanya besar. Apa yang
terjadi dengan dan pendidikan yang begitu besar di Negara ini??? Lebih baik, gantung saja di monas biang
keladi dari semua ini.
Buat anak kok coba-coba….
Saran saya system 20 paket dengan barcode
dan pemberian soal yang terserah pengawas itu bagus. Tetapi ingat pilihlah soal
yang benar-benar bermutu dan memiliki jawaban dan hilangkan kode cetak. Sistem
tidak bisa dianggap salah jika pelaksanaan sistemnya belum becus.
Tetapi saya tetap bersemangat dan optimis
apapun kendalanya agar UN tahun ini saya mendapat hasil yang maksimal.
HERI F.
SMAN 78 JKT, 16 April 2013