Minggu, 02 Desember 2012

ZAMAN PRASEJARAH

. A Pengertian zaman pra aksara :
• Pra-aksara berasal dari gabungan kata, yaitu pra dan aksara. Pra-aksara adalah masa sebelum manusia mengenal bentuk tulisan.
• Masa pra-aksara disebut juga dengan masa nirleka (nir artinya tidak ada, dan leka artinya tulisan), yaitu masa tidak ada tulisan.
• Masa praaksara disebut juga dengan masa pra-sejarah, yaitu suatu masa dimana manusia belum mengenal tulisan.
• Adapun masa sesudah manusia mengenal tulisan disebut juga dengan masa aksara atau masa sejarah.

B. Sumber - sumber zaman pra aksara :
• Fosil: sisa-sisa makhluk hidup yang telah membatu
• Artefak: peralatan hidup yang digunakan manusia purba
• Kjokenmodinger: sampah dapur

C.Pembabakan zaman PRA AKSARA
1. Berdasarkan pera alat yang digunakan dibagi menjadi :
Berdasarkan pada alat-alat atau hasil kebudayaan yang mereka ciptakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupannya, Zaman pra aksara dibagi menjadi 2 (dua), yaitu:
2.1. Zaman batu
Disebut zaman batu karena hasil-hasil kebudayaan pada masa itu sebagian besar terbuat dari batu, mulai dari yang sedernaha dan
kasar sampai pada yang baik dan halus. Perbedaan itu merupakan gambaran usia peralatan tersebut. Semakin sederhana dan
kasar, maka peralatan itu dikatakan berasal dari zaman yang lebih tua, dan sebaliknya. Zaman batu sendiri dibedakan menjadi 3
(tiga), yaitu:

2.1.1.Zaman batu tua (paleolitikum)
Beberapa hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum, di antaranya adalah kapak genggam, kapak perimbas, monofacial,alat-alat
serpih, chopper, dan beberapa jenis kapak yang telah dikerjakan kedua sisinya. Alat-alat ini tidak dapat digolongkan kedalam
kebudayaan batu teras maupun golongan fl ake. Alat-alat ini dikerjakan secara sederhana dan masih sangat kasar. Bahkan, tidak
jarang yang hanya berupa pecahan batu. Beberapa hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum, di antaranya adalah kapak
genggam, kapak perimbas, monofacial,alat-alat serpih, chopper, dan beberapa jenis kapak yang telah dikerjakan kedua sisinya.
Alat-alat ini tidak dapat digolongkan kedalam kebudayaan batu teras maupun golongan fl ake. Alat-alat ini dikerjakan secara
sederhana dan masih sangat kasar. Bahkan, tidak jarang yang hanya berupa pecahan batu. Beberapa contoh hasil kebudayaan
dari zaman paleolitikum dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Chopper merupakan salah satu jenis kapak genggam yang
berfungsi sebagai alat penetak. Oleh karena itu, chopper sering disebut sebagai kapak penetak. Mungkin kalian masih sulit
membayangkan bagaimana cara menggunakan chopper. Misalnya, kalian akan memotong kayu yang basah atau tali yang besar,
sementara kalian tidak memiliki alat pemotong, maka kalian dapat mengambil pecahan batu yang tajam. Kayu atau tali yang
akan dipotong diletakan pada benda yang keras dan bagian yang kan dipotong dipukul dengan batu, maka kayu atau tali akan
putus. Itulah, cara menggunakan kapak penetak atau chopper. Contoh hasil kebudayaan dari zaman paleolitikum adalah flake
atau alat-alat serpih. Hasil kebudayaan ini banyak ditemukan di wilayah Indonesia, terutama di Sangiran (Jawa Tengah) dan
Cebbenge (Sulawesi Selatan). Flake memiliki fungsi yang besar,terutama untuk mengelupas kulit umbi-umbian dan kulit
hewan. Perhatikan salah satu contoh flake yang ditemukan di Sangiran dan Cebbenge.
Pada Zaman Paleolitikum, di samping ditemukan hasilhasil kebudayaan, juga ditemukan beberapa peninggalan, seperti
tengkorak (2 buah), fragmen kecil dari rahang bawah kanan, dan tulang paha (6 buah) yang diperkirakan dari jenis manusia.
Selama masa paleolitikum tengah, jenis manusia itu tidak banyak mengalami perubahan secara fisik. Pithecanthropus
Erectus adalah nenek moyang dari Manusia Solo (Homo Soloensis). Persoalan yang agak aneh karena Pithecanthropus
memiliki dahi yang sangat sempit, busur alis mata yang tebal, otak yang kecil, rahang yang besar, dan geraham yang kokoh.
Di samping ini adalah salah tengkorak Homo Soloensis yang ditemukan oleh Ter Haar, Oppenoorth, dan von Konigwald
di Ngandong pada tahun 1936-1941.
2.1.2 Zaman batu tengah (Mesolitikum)
Pada Zaman Mesolitikum terdapat tiga macam kebudayaan yang berbeda satu sama lain, yaitu kebuadayaan: (1) Bascon-
Hoabin, (2) Toale, dan (3) Sampung. Ketiga kebudayaan itu diperkirakan datang di Indonesia hampir bersamaan waktunya.
Kebudayaan Bascon-Hoabin ditemukan dalam goa-goa dan bukit-bukit kerang di Indo Cina, Siam, Malaka, dan Sumatera
Timur. Daerah-daerah itu merupakan wilayah yang saling berkaitan satu sama lainnya. Kebudayaan ini umumnya berupa alat
dari batu kali yang bulat. Sering disebut sebagai ‘batu teras’ karena hanya dikerjakan satu sisi, sedangkan sisi yang lain
dibiarkan tetap licin.

2.1.3 Zaman batu muda (Neolitikum).
Pada masa neolitikum, perkembangan kapak lonjong Dan beliung persegi sangat menonjol. Konon kedua jenis alat ini berasal
dari daratan Asia Tenggara yang masuk ke Indonesia melalui jalan barat dan jalan timur. Persebaran kapak lonjong dan
beliung persegi Berdasarkan hasil penelitian, peralatan manusia purba banyak ditemukan di berbagai wilayah, seperti daerah
Jampang Kulon (Sukabumi), Gombong (Jawa Tengah), Perigi dan Tambang Sawah (Beng-kulu), Lahat dan Kalianda
(Sumatera Selatan), Sembiran Trunyan (Bali), Wangka dan Maumere (Flores), daerah Timor Timur, Awang Bangkal
(Kalimantan Timur), dan Cabbenge (Sulawesi Selatan).
Beberapa peralatan yang penting dan banyak ditemukan, di antaranya:
a.Kapak perimbas.
b.Kapak penetak.
c.Kapak genggam.
d.Pahat genggam.
e. Alat serpih.
f.Alat-alat dari tulang..
g.Blade, flake, dan microlith.
Di samping ketiga zaman batu itu, juga dikenal zaman batu besar (megalitikum).
Sebenarnya, zaman megalitikum bukan kelanjutan dari zaman batu sebelumnya. Megalitikum muncul bersamaan dengan
Zaman mesolotikum dan neolitikum. Pada zaman batu pada umumnya,muncul kebudayaan batu besar (megalitikum)
seperti menhir, batu berundak, dolmen, dan sebagainya. Sistem kepercayaan masyarakat terus berkembang. Penghormatan
kepada roh nenek moyang dapat dilihat pada peninggalan- peninggalan berupa tugu batu seperti pada zaman megalitikum.
Peninggalan megalitikum lebih banyak ditemukan pada tempat-tempat yang tinggi. Hal itu sesuai dengan kepercayaan bahwa
roh nenek moyang bertempat tinggal pada tempat yang lebih tinggi.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa manusia mulai menyadari kehidupannya berada di tengah-tengah alam
semesta. Manusia menyadari dan merasakan adanya kekuatan yang maha dahsyat di luar dirinya sendiri. Kekuatan itulah yang
kemudian di-ketahui berasal dari Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan yangmenciptakan, menghidupkan, memelihara, dan
membinasakan alam semesta. Dari kepercayaan itu, selanjutnya berkembang kepercayaan yang bersifat animisme,
dinamisme, dan monoisme. Animisme adalah kepercayaan bahwa setiap benda memiliki roh atau jiwa. Dinamisme
merupakan kepercayaan bahwa setiap benda memiliki kekuatan gaib. Sedangkan monoisme merupakan kepercayaan terhadap
Tuhan Yang Maha Esa.
1. Zaman Logam
Sementara, zaman logam dibedakan menjadi 3 (tiga) zaman, yaitu:
1).Zaman Tembaga
2) Zaman Perunggu
3). Zaman Besi
Namun, zaman Tembaga tidak pernah berkembang di Indonesia. Dengan demikian, zaman logamdi Indonesia dimulai dari
zaman Perunggu. Beberapa peninggalan dari zaman logam, di antaranya adalah nekara,

2. Berdasarkan zaman geologi dibagi menjadi :
• a. Arkezoikum (+2500 juta tahun yang lalu)

• b Paleozoikum ( +340 juta tahun yang lalu )

• c Mesozoikum ( +140 juta tahun yang lalu)

• d Neozoikum ( +60 juta tahun yang lalu )


3. BERDASARKAN CORAK KEHIDUPANNYA
• Masa Berburu
• Masa Meramu
• Masa Bercocok Tanam


Pertemuan ke 2 :
JENIS MANUSIA PURBA DI INDONESIA
Pithecanthropus Erectus
Meganthropus Palaeojavanicus / Homo Soloensis
Homo Mojokertensis /Homo Wajakensis / Homo Sapien


1. CIRI – CIRI PITHECANTHROPUS
– Tinggi badan sekitar 165 – 180 cm
– Volume otak berkisar antara 750 – 1350 cc
– Bentuk tubuh & anggota badan tegap
– Alat pengunyah dan alat tengkuk sangat kuat
– Bentuk graham besar dengan rahang yang sangat kuat
– Bentuk tonjolan kening tebal
– Bentuk hidung tebal
– Bagian belakang kepala tampak menonjol

2. CIRI CIRI MEGANTHROPUS PALAEOJAVANICUS
– Memiliki tulang pipi yang tebal
– Memiliki otot kunyah yang kuat
– Memiliki tonjolan kening yang menyolok
– Memiliki tonjolan belakang yang tajam
– Tidak memiliki dagu
– Memiliki perawakan yang tegap
– Memakan jenis tumbuhan

3.CIRI CIRI HOMO :Wajakkensis ,Mojokertensis Sapien
- Volume otaknya antara 1000 – 1200 cc
– Tinggi badan antara 130 – 210 cm
– Otot tengkuk mengalami penyusutan
– Muka tidak menonjol kedepan
– Berdiri tegak dan berjalan lebih sempurna

Penemu manusia purba di Indonesia


Peta penemuan manusia purba di Indonesia



Pertemuan ke 3 :

3. PROSES KEDATANGAN DAN PERSEBARAN NENEK MOYANG BANGSA INDONESIA DI NUSANTARA

Menurut para ahli, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan. Daerah Yunan terletak di daratan Asia Tenggara.
Tepatnya, di wilayah Myanmar sekarang. Seorang ahli sejarah yang mengemukakan pendapat ini adalah Moh. Ali. Pendapat
Moh. Ali ini didasarkan pada argumen bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari hulu-hulu sungai besar di Asia dan
kedatangannya ke Indonesia dilakukan secara bergelombang. Gelombang pertama berlangsung dari tahun 3000 SM – 1500 SM
dengan menggunakan perahu bercadik satu. Sedangkan gelombang kedua berlangsung antara tahun 1500 SM – 500 SM dengan
menggunakan perahu bercadik dua. Tampaknya, pendapat Moh. Ali ini sangat dipengaruhi oleh pendapat Mens bahwa nenek
moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Mongol yang terdesak ke selatan oleh bangsa-bangsa yang lebih kuat.
Sementara, para ahli yang lain memiliki pendapat yang beragam dengan berbagai argumen atau alasannya, seperti:
1. Prof. Dr. H. Kern dengan teori imigrasi menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Campa, Kochin
Cina, Kamboja. Pendapat ini didasarkan pada kesamaan bahasa yang dipakai di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanisia,
Dan Mikronesia. Menurut hasil penelitiannya, bahasa-bahasa yang digunakan di daerah-daerah tersebut berasal dari satu
Akar bahasa yang sama, yaitu bahasa Austronesia. Hal ini dibuktikan dengan adanya nama dan bahasa yang dipakai daerah-
Daerah tersebut. Objek penelitian Kern adalah kesamaan bahasa, namanama binatang dan alat-alat perang.
2. Van Heine Geldern berpendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Asia. Pendapat ini didukung oleh artefak-artefak atau peninggalan kebudayaan yang ditemukan di Indonesia memiliki banyak kesamaan dengan peninggalan kebudayaan yang ditemukan di daerah Asia.
3. Prof. Mohammad Yamin berpendapat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari daerah Indonesia sendiri.
Pendapat ini didasarkan pada penemuan fosil-fosil dan artefakartefak manusia tertua di Indonesia dalam jumlah yang banyak.
Di samping itu, Mohammad Yamin berpegang pada prinsip Blood Und Breden Unchro, yang berarti darah dan tanah bangsa
Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Manusia purba mungkin telah tinggal di Indonesia, sebelum terjadi gelombang
perpindahan bangsa-bangsa dari Yunan dan Campa ke wilayah Indonesia.
4. Hogen berpendapat bangsa yang mendiami daerah pesisir Melayu berasal dari Sumatera. Banga ini bercampur dengan
bangsa Mongol dan kemudian disebut bangsa Proto Melayu dan Deutro Melayu. Bangsa Proto Melayu (Melayu Tua)
menyebar ke wilayah Indonesia pada tahun 3000 SM – 1500 SM. Sedangkan bangsa Deutro Melayu (Melayu Muda) menyebar
ke wilayah Indonesia pada tahun 1500 SM – 500 SM. Berdasarkan penyelidikan terhadap penggunaan bahasa yang dipakai di
berbagai kepulauan, Kern berkesimpulan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari satu daerah dan menggunakan
bahasa yang sama, yaitu bahasa Campa. Namun, sebelum nenek moyang bangsa Indonesia tiba di daerah kepulauan Indonesai,
daerah ini telah ditempati oleh bangsa berkulit hitam dan berambut keriting. Bangsa-bangsa ini hingga sekarang menempati
daerahdaerah Indonesia bagian timur dan daerah-daerah Australia. Sementara, sekitar tahun 1500 SM, nenek moyang bangsa
Indonesia yang berada di Campa terdesak oleh bangsa lain dari Asia Tengah yang lebih kuat. Mereka berpindah ke Kamboja
dan kemudian melanjutkan perjalanannya ke Semenanjung Malaka dan daerah Filipina. Dari Semenanjung Malaka, mereka
melanjutkan perjalanannya ke daerah Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Sedangkan mereka yang berada di Filipina
melanjutkan perjalanannya ke daerah Minahasa dan daerah-daerah sekitarnya.
Bertitik tolak dari pendapat-pendapat di atas, terdapat hal-hal yang menarik tentang asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia.
a.Pertama : Nenek moyang bangsa indonesia berasal dari Yunan dan Champa ,argumen ini merujuk pada pendapat Moh. Ali
dan Kern bahwa sekitar tahun 3000 SM – 1500 SM terjadi gelombang perpindahan bangsa-bangsa di Yunan dan Campa
sebagai akibat desakan bangsa lain dari Asia Tengah yang lebih kuat. Argumen ini diperkuat dengan adanya persamaan
bahasa, nama binatang, dan nama peralatan yang dipakai di kepulauan Indonesia, Polinesia, Melanesia, dan Mikronesia.
Kedua : Nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Argumen ini merujuk pada pendapat Mohammad
Yamin yang didukung dengan penemuan fosil-fosil dan artefak-artefak manusia tertua di wilayah Indonesia dalam jumlah
yang banyak. Sementara, fosil dan artefak manusia tertua jarang ditemukan di daratan Asia. Sinanthropus Pekinensis yang
ditemukan di Cina dan diperkirakan sezaman dengan Pithecantropus Erectus dari Indonesia, merupakan satu-satunya
penemuan fosil manusia tertua di daratan Asia.
Ketiga : Masyarakat awal yang menempati wilayah Indonesia termasuk rumpun bangsa Melayu. Oleh karena itu, bangsa
Melayu ditempatkan sebagai nenek moyang bangsa Indonesia. Argumen ini merujuk pada pendapat Hogen. Bangsa Melayu
yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:
1. Bangsa Proto Melayu
Bangsa ini memasuki wilayah Indonesia melalui 2 (dua) jalan, yaitu:
a. Jalan barat dari Semenanjung Malaka ke Sumatera dan selanjutnya menyebar ke beberapa daerah di Indonesia.
b. Jalan timur dari Semenanjung Malaka ke Filipina dan Minahasa, serta selanjutnya menyebar ke beberapa daerah di
Indonesia. Bangsa Proto Melayu memiliki kebudayaan yang setingkat lebih tinggi dari kebudayaan Homo Sapiens di
Indonesia. Kebuadayaan mereka adalah kebudayaan batu muda (neolitikum). Hasilhasil kebudayaan mereka masih terbuat
dari batu, tetapi telah dikerjakan dengan baik sekali (halus). Kapak persegi merupakan hasil kebudayaan bangsa Proto
Melayu yang masuk ke Indonesia melalui jalan barat dan kapak lonjong melalui jalan timur. Keturunan bangsa Proto
Melayu yang masih hidup hingga sekarang, di antaranya adalah suku bangsa Dayak, Toraja, Batak, Papua.
2. Bangsa Deutro Melayu
Sejak tahun 500 SM, bangsa Deutro Melayu memasuki wilayah Indonesia secara bergelombang melalui jalan barat.
Kebudayaan bangsa Deitro Melayu lebih tinggi dari kebudayaan bangsa Proto Melayu. Hasil kebudayaan mereka terbuat dari
logam (perunggu dan besi). Kebuadayaan mereka sering disebut kebudayaan Don Song, yaitu suatu nama kebudayaan di daerah
Tonkin yang memiliki kesamaan dengan kebudayaan bangsa Deutro Melayu. Daerah Tonkin diperkirakan merupakan tempat
asal bangsa Deutro Melayu, sebelum menyebar ke wilayah Indonesia. Hasil-hasil kebudayaan perunggu yang penting di
Indonesia adalah kapak corong atau kapak sepatu, nekara, dan bejana perunggu. Keturunan bangsa Deutro Melayu yang masih
hidup hingga sekarang, di antaranya suku bangsa Melayu, Batak, Minang, Jawa, Bugis.

Entri Populer

Pengikut