SOEKARNO
Menarik
sekali untuk disimak bahwa dalam kasus Gerakan Tiga Puluh September ini
melibatkan berbagai pihak yang mempunyai motif berbeda-beda dan mempunyai
kemungkinan bahwa salah satu dari mereka adalah tokoh dibalik kejahatan yang
terjadi dalam sejarah hitam Indonesia ini. Oleh karena itu semua kemungkinan
motif ini harus kami ungkapkan beserta fakta-fakta pendorong mengapa para tokoh
tersebut mempunyai motif seperti itu.
Tokoh
yang pertama yang
harus untuk dicermati adalah Untung. Kami rasa Untung adalah tokoh kunci
dalam masalah ini. Kenapa kami katakan demikian adalah karena dari fakta-fakta
yang kami kumpulkan menunjukkan bahwa Untung mempunyai peran yang sangat besar
dalam drama besar penculikan dan pembunuhan dewan Jendral. Dia adalah Letnan
Kolonel yang mengomandani Batalyon I Resimen Cakabirawa (pasukan pengawal
presiden). Dan penting untuk dicatat bahwa semua pelaku penculikan itu adalah
para tentara Cakrabirawa yang berada di bawah kendali Untung.
Sebagai
pemegang otoritas tertinggi di Cakrabirawa hampir tidak rasional untuk
mengatakan bahwa Untung tidak mengetahui rencana tersebut. Bahkan ia sendiri
yang berusaha mengamankan Soekarno ke Halim Perdana Kusuma. Kalau ia tidak
mengetahui adanya gerakan tersebut, mengapa ia melakukan hal tersebut?. Di sisi
lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa dalam doktrin militer, seorang militer
tidak akan bergerak kecuali atas perintah dari atasannya. Sedangakan
Cakrabirawa sendiri adalah organisasi yang lepas dari struktur keorganisasian
angkatan darat.
Kami
tidak menemui fakta bahwa Untung mempunyai wajah seorang dalang dari peristiwa
Gerakan Tiga Puluh September tersebut. Ia tidak lebih adalah seorang pekerja
lapangan yang berjalan karena ada suatu perintah atau komando dari seseorang
atau badan tertentu. Ia benar-benar orang baru dalam jabatannya di Jakarta.
Namun, ia mempunyai kedekatan dengan Divisi Diponegoro yang dikatakan sebagai
inti efektif “Gerakan” ini. Ia pernah menjadi orang kepercayaan kolonel
Suherman, Asisten I Komandan Divisi, mengepalai intelijen dan keamanan.
Ada
beberapa sisi menarik dari Untung ini. Bahwa ia mempunyai kedekatan yang cukup
tinggi terhadap Soeharto. Pada masa sepuluh tahun pertama karir Soeharto,
Untung bersama Latif adalah anak buah dari calon penguasa orde baru itu. Bahkan
yang mencarikan jodoh Untung ini adalah istri dari Soeharto sendiri, Ibu Tien
Soeharto.
Tokoh
kedua yang
mempunyai motif yang cukup kuat adalah Angkatan Darat Divisi Diponegoro.
Ralitas yang terjadi di Jawa Tengah adalah bahwa propinsi itu adalah propinsi
yang miskin. Baik miskin secara ekonomi maupun miskin secara politik.
Kemiskinan dalam bidang ekonomi merupakan lahan subur bagi tumbuhnya paham
komunis and kebencian pada sikap hidup mewah “orang Jakarta”. Dan kemiskinan
politik menimbulkan iri hati yang cukup mendalam. Patut diingat dalam sejarah
Jawa, jawa tengah selalu menjadi sentral politik selama ini, sampai “direbut”
oleh Jakarta/Jawa Barat.
Mungkin
latar belakang itulah yang memicu keinginan para pejabat militer Jawa Tengah
untuk menguasai Jakarta dengan jalan kudeta dengan menguasai basis militer yang
ada di Jakarta. Dengan begitu, selain menyingkirkan para penentang Soekarno dan
komunis, para petinggi-petinggi ini mendapatkan kembali “kekayaannya”.
Gerakan
aktual yang dapat dipastikan dan menjadi noda sepanjang hayat Divisi
Diponegoro, ialah peran sertanya dalam penculikan dan pembunuhan enam jendral
dan seorang ajudan Nasution, letnan Pierre Tandean. Dengan dalih mengikuti
parade dan demonstrasi tahunan dalam rangka peringatan hari angkatan bersenjata
5 Oktober, divisi ini mengerahkan satu batalyon dua minggu sebelumnya. Yang
menjadi pertanyaan sekarang adalah mengapa harus berangkat jauh hari
sebelumnya, tidak seperti tahun-tahun seblumnya, yaitu dua minggu sebelum
tanggal 5 Oktober?. Dan yang kedua mengapa batalyon yang dikirim adalah bekas
batalyon 454, yaitu batalyon yang pernah dipimpin secara langsung oleh Untung?.
Pertanyaan itu segera terjawab karena mereka memang sejak awal mendukung
gerakan yang akan dilakukan oleh Untung.
Bahkan
setelah untung bergerak pasukan-pasukan yang ada di Jawa Tengah juga ikut
melakukan aksi-aksi penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah orang yang
dianggap “dibesarkan oleh Jakarta”.
Namun
dari motif-motif yang mereka punyai, akan terkesan janggal jika mereka dianggap
sebagai dalang atas semua gerakan ini,
dimana jumlah pasukan yang mereka kirimkan ke Jakarta relatif sedikit dengan
ambisi yang sedemikian besar. Bahkan para petinggi Divisi Diponegoro hanya
Suherman, dan kolonel Marjono. Justru gerakan besar- yang murni oleh kekuatan
mereka sendiri –justru dilakukan di Jawa Tengah. Lagi pula modusnya sama dengan
yang dilakukan oleh Untung. Dalam hal ini dapat kami ambil kesimpulaan bahwa
mereka mempunyai satu garis koordinasi yang berpusat di Jakarta, dimana
merupakan sentral kekuatan politis. Lalu, mungkinkah mereka dalangnya sedangkan
mereka berada di Jawa Tengah?.
Calon
presiden kita satu ini (saat itu) tidak boleh kita lupakan karena mempunyai
andil yang cukup besar dalam pembuat berita yang sampai sekarang banyak orang
meyakininya. Ia adalah Soeharto, orang ketiga yang patut ditelusuri motif dan
gerakannya sehingga setelah tidak lama berselang peristiwa itu ia mampu tampil
sebagai pahlawan Indonesia dengan menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI)
sampai keakar-akarnya. Hingga sekarang.
Memang
kami tidak menemukan fakta sama sekali yang menyatakan bahwa Soeharto terlibat
secara langsung dalam penculikan dan pembunuhan enam Jendral dan seorang ajudan
jenderal seperti halnya Untung. Namun, ia mengundang banyak kecurigaan banyak
pihak apalagi selepas ia lengser dari tatanan ideologi orde barunya. Apalagi
bisa saja orang seperti Soeharto melakukan koordinasi secara halus tanpa
diketahui orang lain.
Kecurigaan
itu muncul bukan tanpa alasan. Latif, seorang pengendali sejumlah batalyon di
Jakarta yang juga pernah menjadi anak buah Soeharto bersama Untung, menemui
Soeharto pada tengah malam di Rumah Sakit. Pada saat itu Soeharto sedang
menunggui anak bungsunya, Hutomo Mandala Putra (Tommy), yang sedang sakit.
Dalam beberapa buku menanyakan mengapa Soeharto tidak masuk dalam salah satu
tokoh yang diculik dan dibunuh. Dan mengapa dalam keadaan yang sangat genting
itu Latif menyempatkan diri menemui Soeharto?. Ada beberapa jawaban yang
tersebar dalam berbagai buku yang kami baca. Jawaban alternatif pertama adalah
Soeharto adalah dalang atas semua ini.
Hal ini didasrkan pada pengakuan Latif sendiri. Menurut pengakuan Latif,
bahwa ia sedang melaporkan keadaan yang sedang terjadi diluar sana pada Soeharto.
Jika itu berarti Soeharto adalah dalangnya, mengapa harus dirumah sakit?
Padahal dalam menjalankan tugas negara saja harus rela meninggalkan tugas
negara, apalagi percobaan kudeta. Mengapa juga harus Latif sendiri yang
melaporkannya, mengapa tidak lewat telepon saja?. Padahal hal ini akan
mengundang kecurigaan berbagai pihak dimana sebelumnya keduanya saat akan
terjadinya Gerakan tidak ada hubungan yang cukup signifikan. Atau bukankah hal
itu akan menghancurkan skenario yang telah dibuat sebelumnya bahwa Soeharto
adalah tokoh halus dalam gerakan ini. Lagi pula apa keuntungan yang dapat
diambil oleh seorang rakus yang bernama Soeharto dar skenario ini. Hal ini
sangatlah sulit untuk dicerna oleh akal sehat.
Jawaban
alternatif kedua adalah memang Soeharto tidak tahu apa-apa dan bahkan sebenarnya
ia masuk dalam daftar orang yang akan diculik dan dibunuh. Pendapat ini
disandarkan pada pengakuan Soeharto yang mengatakan bahwa saat itu ia
sebenarnya akan dibunuh oleh Latif, namun tidak jadi dilakukan. Pertanyaannya
sekarang mengapa Soeharto harus masuk dalam daftar orang yang dibunuh, padahal
saat itu ia bukan orang yang terlalu berpengaruh baik dalam tubuh angkatan
darat sendiri maupun dalam pemerintahan. Ingat pangkat Soeharto pada saat itu
hanyalah seorang Brigjen. Dan mengapa
juga harus Latif sendiri yang harus turun tangan padahal para Jendral yang lain
ditangani oleh pasukan-pasukan berpangkat rendahan yang bahkan ada yang tidak
tahu mana rumah dan wajah para Jendral tersebut.
Ada jawaban alternatif versi kami sendiri
untuk menjawab masalah yang terjadi malam itu. Kami menduga bahwa memang
sebelumnya Soeharto tidak mengetahui sama sekali yang telah maupun yang akan
terjadi pada malam itu. Ia pun bukanlah sasaran penculikan maupun pembunuhan.
Karena dirasa tidak akan terjadi apa-apa, dan mengetahui anak kesayangannyanya
sakit, ia lantas menunggu di Rumah Sakit. Tetapi perlu dicatat walaupun jabatan
Soeharto secara politis tidak menguntungkan, namun ia mempunyai otoritas dalam
pengambilalihan wewewnag dalam tubuh Angkatan Darat apabila Ahmad Yani tidak
ada di tempat. Oleh karena itu Latif yang pernah mempunyai hubungan dengan
Soeharto mencoba mengajak kerjasama dalam percobaan penculikan dan pembunuhan
para Jendral itu. Latif mencitakan hal-ihwal yang terjadi diluar sana. Latif
memberanikan diri mengatakan semuanya karena tahu latar belakang Soeharto yang
mempunyai dendam pada beberapa orang Jendral, terutama Yani yang pernah
membongkar kasus penyeludupan yang pernah ia lakukan. Dan Latif pun mengira ia
akan berhasil mempengaruhi Soeharto.
Namun
rupa-rupanya Soeharto tidak mau mengikuti ajakan Latif tersebut. Namun, ada
kesalahan besar Soeharto yang ia sembunyikan, yaitu bahwa ia idak segera
melaporkan hal tersebut untuk segera diatasi. Bahkan ia rupa-rupanya melakukan
upaya menyusun strategi untuk menunggangi dan mengambil keuntungan kejadian
besar yang akan terjadi di kancah perpolitikan Indonesia.
Hal ini
dapat dijelaskan dengan tuntas dengan melihat gelagat dan kecerdikan Soeharto
pasca Gerakan Tiga Puluh September karena ia rupa-rupanya mengetahui siapa
dalang sebenarnya dari Gerakan ini. Hal ini akan kami paparkan nanti setelah
terkuak siapa dalang peristiwa yang menewaskan enam jendral dan seorang ajudan.
Badan
yang memiliki andil yang cukup besar adalah CIA dibawah bekingan barat. Banyak
sekali bukti yang mnunjukkan bahwa CIA mengadakan kerjasama dengan Dewan
Jenderal untuk melengserkan Soekarno dari tampuk kepemimpinan. Negara-negara
barat sangat membenci Soekarno karena dinilai membangkang dari politik yang
dilancarkan negara-negara barat. Mulai dari pernyataan Soekarno bahwa Indonesia
keluar dari PBB, pengumuman perang dngan Malaysia sampai penerimaan konsep
komunis yang secara politis memihak blok timur (Uni Sovyet) dan tentu saja
menentang blok barat.
Fakta-fakta
diatas menampakkan kesimpulan bahwa memang ada fakta bahwa dewan jendral akan
melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Soekarno. Atau minimal bila tidak
dikatakan demikian, isu akan terjadinya kudeta Dewan Jendral sangatlah kuat.
Apalagi dewan Jendral secara terang-terangan menolak paham komunis dan terjadi
perang dingin antara Soekarno dengan angkatan darat. Bahkan dalam beberapa buku
dikatakan bahwa dewan jendral tidak hanya menerima dukungan dana saja namun
senjata juga.
Kegiatan
aktual yang dilancarkan CIA semisal koordinasi sangatlah tidak kentara namun
Sjam dicurigai sebagai salah seorang intelijen CIA. Namun hampir secara
keseluruhan tidak dapat disimpulkan sama sekali bahwa CIA adalah pelaku Gerakan
Tiga Puluh September. Justru kalau CIA adalah pelakunya hal itu sangatlah tidak
logis karena mereka akan kehilangan tangan utamanya yaitu Dewan Jendral itu
sendiri.
Pelaku
utama versi orde baru adalah PKI. Sebenarnya kesimpulan itu tidak sepenuhnya
salah. Ada beberapa motif yang menyimpulkan hal tersebut. Yang pertama adalah
keinginan untuk menancapkan ideologi komunis tetapi mendapat tentangan dari
para dewan Jendral. Besarnya Angkatan Darat dalam tubuh pemerintahan, membuat
PKI meras takut apalagi Angkatan Darat tidak menyetujui ideologi Komunisme.
Yang kedua, dalam paham komunisme militerisme sangat dibenci karena dianggap
alat oleh kelas penguasa dalam menindas dan menghegemoni kaum proletar. Dan
yang ketiga, Dendam pada militer terutama Angkatan Darat yang membantai
orang-orang PKI pada peristiwa Madiun 1948.
Selain
itu ada beberapa fakta yang menguatkan bahwa PKI adalah benar-benar pelaku
kudeta tersebut. Fakta yang pertama adalah perebutan massa pada saat menjelang
pemilu yang sukses besar. Dan fakta yang kedua adalah Perebutan jabatan-jabatan
pemerintahan secara perlahan-lahan. Dua hal ini menunjukkan bahwa
kekuatan/potensi PKI sedemikian besar sehingga mempunyai keberanian melakukan
Gerakan tersebut.
Tapi
bila dilihat dari fakta-faktanya, kami simpulkan bahwa PKI sebenarnya adalah
korban dari Gerakan ini. Orang-orang PKI yang dikumpulkan dilubang buaya yang
merupakan orang-orang desa yang tidak tahu-menahu, sekitar dua bulan sebelumnya
sudah dilatih kemiliteran tanpa mengetahui maksud mereka dilatih seperti itu.
Meraka dijemput oleh truk-truk setiap saat, latihan perang dan di dogmakan agar
menuruti kata-kata pemimpinnya. Pada saat malam satu Oktober itu, mereka juga
dijemput seperti biasanya dan dihadapkan adanya musuh yang sebenarnya tanpa
tahu siapakah musuhnya. Pernah ada seorang Gerwani hamil yang menanyakan
siapakah para korban yang dijadikan latihan militer tersebut. Akibatnya, wanita
tersebut langsung ditampar oleh seorang Cakrabirawa.
Ada
beberapa fakta-fakta lain yang apabila dihubungkan dengan kesimpulan bahwa PKI
adalah pelaku gerakan menjadi tidak masuk akal. Memang benar PKI memiliki massa
yang sangat besar yaitu sekitar 15 juta penduduk Indonesia, namun massa
sedemikianbesar adalah jumlah pemilih PEMILU yang sebagian besar adalah para
buruh dan petani yang tidak tahu apa-apa, tidak mempunyai kekuatan militer, dan
apalagi kekuatan
Kemampuan yang dimiliki:
Mempunyai massa sekitar
lima belas juta penduduk.
Dukungan langsung dari
presiden Soekarno.
Soekarno:
Motif:
-
Kebencian pada CIA/Amerika
-
Dukungan pada Nasakom
-
Angkatan darat tidak setuju pada konsep
Nasakom sehingga menimbulan konflik.
-
Takut akan otoritas kekuasaannya terganggu
karena isu kudeta dewan jendral
-
Mempunyai karakter yang otoriter.
Gerakan aktual:
· Pembentukan
angkatan kelima dengan mempersenjatai buruh dan tani.
· Keluar
dari PBB.
· Pengumuman
perang dengan Malaysia.
· Pada
malam Satu Oktober, Soekarno berada di Halim Perdana Kusuma bersama D.N. Aidit
Kemampuan yang dimiliki:
ð Dukungan
masyarakat terutama dari kalangan bawah.
ð Kekuasaan/otoritas
tertinggi dinegara dipegang penuh.
Otopsi
terhadap mayat menyatakan bahwa para jendral tidak disiksa seperti yang
didogmakan selama ini oleh Soeharto.