Rabu, 07 November 2012

BIOGRAFI SOEKARNO


SOEKARNO
Menarik sekali untuk disimak bahwa dalam kasus Gerakan Tiga Puluh September ini melibatkan berbagai pihak yang mempunyai motif berbeda-beda dan mempunyai kemungkinan bahwa salah satu dari mereka adalah tokoh dibalik kejahatan yang terjadi dalam sejarah hitam Indonesia ini. Oleh karena itu semua kemungkinan motif ini harus kami ungkapkan beserta fakta-fakta pendorong mengapa para tokoh tersebut mempunyai motif seperti itu.
Tokoh yang pertama yang harus untuk dicermati adalah Untung. Kami rasa Untung adalah tokoh kunci dalam masalah ini. Kenapa kami katakan demikian adalah karena dari fakta-fakta yang kami kumpulkan menunjukkan bahwa Untung mempunyai peran yang sangat besar dalam drama besar penculikan dan pembunuhan dewan Jendral. Dia adalah Letnan Kolonel yang mengomandani Batalyon I Resimen Cakabirawa (pasukan pengawal presiden). Dan penting untuk dicatat bahwa semua pelaku penculikan itu adalah para tentara Cakrabirawa yang berada di bawah kendali Untung.
Sebagai pemegang otoritas tertinggi di Cakrabirawa hampir tidak rasional untuk mengatakan bahwa Untung tidak mengetahui rencana tersebut. Bahkan ia sendiri yang berusaha mengamankan Soekarno ke Halim Perdana Kusuma. Kalau ia tidak mengetahui adanya gerakan tersebut, mengapa ia melakukan hal tersebut?. Di sisi lain yang perlu diperhatikan ialah bahwa dalam doktrin militer, seorang militer tidak akan bergerak kecuali atas perintah dari atasannya. Sedangakan Cakrabirawa sendiri adalah organisasi yang lepas dari struktur keorganisasian angkatan darat.
Kami tidak menemui fakta bahwa Untung mempunyai wajah seorang dalang dari peristiwa Gerakan Tiga Puluh September tersebut. Ia tidak lebih adalah seorang pekerja lapangan yang berjalan karena ada suatu perintah atau komando dari seseorang atau badan tertentu. Ia benar-benar orang baru dalam jabatannya di Jakarta. Namun, ia mempunyai kedekatan dengan Divisi Diponegoro yang dikatakan sebagai inti efektif “Gerakan” ini. Ia pernah menjadi orang kepercayaan kolonel Suherman, Asisten I Komandan Divisi, mengepalai intelijen dan keamanan.
Ada beberapa sisi menarik dari Untung ini. Bahwa ia mempunyai kedekatan yang cukup tinggi terhadap Soeharto. Pada masa sepuluh tahun pertama karir Soeharto, Untung bersama Latif adalah anak buah dari calon penguasa orde baru itu. Bahkan yang mencarikan jodoh Untung ini adalah istri dari Soeharto sendiri, Ibu Tien Soeharto.
Tokoh kedua yang mempunyai motif yang cukup kuat adalah Angkatan Darat Divisi Diponegoro. Ralitas yang terjadi di Jawa Tengah adalah bahwa propinsi itu adalah propinsi yang miskin. Baik miskin secara ekonomi maupun miskin secara politik. Kemiskinan dalam bidang ekonomi merupakan lahan subur bagi tumbuhnya paham komunis and kebencian pada sikap hidup mewah “orang Jakarta”. Dan kemiskinan politik menimbulkan iri hati yang cukup mendalam. Patut diingat dalam sejarah Jawa, jawa tengah selalu menjadi sentral politik selama ini, sampai “direbut” oleh Jakarta/Jawa Barat.
Mungkin latar belakang itulah yang memicu keinginan para pejabat militer Jawa Tengah untuk menguasai Jakarta dengan jalan kudeta dengan menguasai basis militer yang ada di Jakarta. Dengan begitu, selain menyingkirkan para penentang Soekarno dan komunis, para petinggi-petinggi ini mendapatkan kembali “kekayaannya”.
Gerakan aktual yang dapat dipastikan dan menjadi noda sepanjang hayat Divisi Diponegoro, ialah peran sertanya dalam penculikan dan pembunuhan enam jendral dan seorang ajudan Nasution, letnan Pierre Tandean. Dengan dalih mengikuti parade dan demonstrasi tahunan dalam rangka peringatan hari angkatan bersenjata 5 Oktober, divisi ini mengerahkan satu batalyon dua minggu sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah mengapa harus berangkat jauh hari sebelumnya, tidak seperti tahun-tahun seblumnya, yaitu dua minggu sebelum tanggal 5 Oktober?. Dan yang kedua mengapa batalyon yang dikirim adalah bekas batalyon 454, yaitu batalyon yang pernah dipimpin secara langsung oleh Untung?. Pertanyaan itu segera terjawab karena mereka memang sejak awal mendukung gerakan yang akan dilakukan oleh Untung.
Bahkan setelah untung bergerak pasukan-pasukan yang ada di Jawa Tengah juga ikut melakukan aksi-aksi penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah orang yang dianggap “dibesarkan oleh Jakarta”.
Namun dari motif-motif yang mereka punyai, akan terkesan janggal jika mereka dianggap sebagai  dalang atas semua gerakan ini, dimana jumlah pasukan yang mereka kirimkan ke Jakarta relatif sedikit dengan ambisi yang sedemikian besar. Bahkan para petinggi Divisi Diponegoro hanya Suherman, dan kolonel Marjono. Justru gerakan besar- yang murni oleh kekuatan mereka sendiri –justru dilakukan di Jawa Tengah. Lagi pula modusnya sama dengan yang dilakukan oleh Untung. Dalam hal ini dapat kami ambil kesimpulaan bahwa mereka mempunyai satu garis koordinasi yang berpusat di Jakarta, dimana merupakan sentral kekuatan politis. Lalu, mungkinkah mereka dalangnya sedangkan mereka berada di Jawa Tengah?.
Calon presiden kita satu ini (saat itu) tidak boleh kita lupakan karena mempunyai andil yang cukup besar dalam pembuat berita yang sampai sekarang banyak orang meyakininya. Ia adalah Soeharto, orang ketiga yang patut ditelusuri motif dan gerakannya sehingga setelah tidak lama berselang peristiwa itu ia mampu tampil sebagai pahlawan Indonesia dengan menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI) sampai keakar-akarnya. Hingga sekarang.
Memang kami tidak menemukan fakta sama sekali yang menyatakan bahwa Soeharto terlibat secara langsung dalam penculikan dan pembunuhan enam Jendral dan seorang ajudan jenderal seperti halnya Untung. Namun, ia mengundang banyak kecurigaan banyak pihak apalagi selepas ia lengser dari tatanan ideologi orde barunya. Apalagi bisa saja orang seperti Soeharto melakukan koordinasi secara halus tanpa diketahui orang lain.
Kecurigaan itu muncul bukan tanpa alasan. Latif, seorang pengendali sejumlah batalyon di Jakarta yang juga pernah menjadi anak buah Soeharto bersama Untung, menemui Soeharto pada tengah malam di Rumah Sakit. Pada saat itu Soeharto sedang menunggui anak bungsunya, Hutomo Mandala Putra (Tommy), yang sedang sakit. Dalam beberapa buku menanyakan mengapa Soeharto tidak masuk dalam salah satu tokoh yang diculik dan dibunuh. Dan mengapa dalam keadaan yang sangat genting itu Latif menyempatkan diri menemui Soeharto?. Ada beberapa jawaban yang tersebar dalam berbagai buku yang kami baca. Jawaban alternatif pertama adalah Soeharto adalah dalang atas semua ini.  Hal ini didasrkan pada pengakuan Latif sendiri. Menurut pengakuan Latif, bahwa ia sedang melaporkan keadaan yang sedang terjadi diluar sana pada Soeharto. Jika itu berarti Soeharto adalah dalangnya, mengapa harus dirumah sakit? Padahal dalam menjalankan tugas negara saja harus rela meninggalkan tugas negara, apalagi percobaan kudeta. Mengapa juga harus Latif sendiri yang melaporkannya, mengapa tidak lewat telepon saja?. Padahal hal ini akan mengundang kecurigaan berbagai pihak dimana sebelumnya keduanya saat akan terjadinya Gerakan tidak ada hubungan yang cukup signifikan. Atau bukankah hal itu akan menghancurkan skenario yang telah dibuat sebelumnya bahwa Soeharto adalah tokoh halus dalam gerakan ini. Lagi pula apa keuntungan yang dapat diambil oleh seorang rakus yang bernama Soeharto dar skenario ini. Hal ini sangatlah sulit untuk dicerna oleh akal sehat.
Jawaban alternatif kedua adalah memang Soeharto tidak tahu apa-apa dan bahkan sebenarnya ia masuk dalam daftar orang yang akan diculik dan dibunuh. Pendapat ini disandarkan pada pengakuan Soeharto yang mengatakan bahwa saat itu ia sebenarnya akan dibunuh oleh Latif, namun tidak jadi dilakukan. Pertanyaannya sekarang mengapa Soeharto harus masuk dalam daftar orang yang dibunuh, padahal saat itu ia bukan orang yang terlalu berpengaruh baik dalam tubuh angkatan darat sendiri maupun dalam pemerintahan. Ingat pangkat Soeharto pada saat itu hanyalah seorang Brigjen.  Dan mengapa juga harus Latif sendiri yang harus turun tangan padahal para Jendral yang lain ditangani oleh pasukan-pasukan berpangkat rendahan yang bahkan ada yang tidak tahu mana rumah dan wajah para Jendral tersebut.
 Ada jawaban alternatif versi kami sendiri untuk menjawab masalah yang terjadi malam itu. Kami menduga bahwa memang sebelumnya Soeharto tidak mengetahui sama sekali yang telah maupun yang akan terjadi pada malam itu. Ia pun bukanlah sasaran penculikan maupun pembunuhan. Karena dirasa tidak akan terjadi apa-apa, dan mengetahui anak kesayangannyanya sakit, ia lantas menunggu di Rumah Sakit. Tetapi perlu dicatat walaupun jabatan Soeharto secara politis tidak menguntungkan, namun ia mempunyai otoritas dalam pengambilalihan wewewnag dalam tubuh Angkatan Darat apabila Ahmad Yani tidak ada di tempat. Oleh karena itu Latif yang pernah mempunyai hubungan dengan Soeharto mencoba mengajak kerjasama dalam percobaan penculikan dan pembunuhan para Jendral itu. Latif mencitakan hal-ihwal yang terjadi diluar sana. Latif memberanikan diri mengatakan semuanya karena tahu latar belakang Soeharto yang mempunyai dendam pada beberapa orang Jendral, terutama Yani yang pernah membongkar kasus penyeludupan yang pernah ia lakukan. Dan Latif pun mengira ia akan berhasil mempengaruhi Soeharto.
Namun rupa-rupanya Soeharto tidak mau mengikuti ajakan Latif tersebut. Namun, ada kesalahan besar Soeharto yang ia sembunyikan, yaitu bahwa ia idak segera melaporkan hal tersebut untuk segera diatasi. Bahkan ia rupa-rupanya melakukan upaya menyusun strategi untuk menunggangi dan mengambil keuntungan kejadian besar yang akan terjadi di kancah perpolitikan Indonesia.
Hal ini dapat dijelaskan dengan tuntas dengan melihat gelagat dan kecerdikan Soeharto pasca Gerakan Tiga Puluh September karena ia rupa-rupanya mengetahui siapa dalang sebenarnya dari Gerakan ini. Hal ini akan kami paparkan nanti setelah terkuak siapa dalang peristiwa yang menewaskan enam jendral dan seorang ajudan.
Badan yang memiliki andil yang cukup besar adalah CIA dibawah bekingan barat. Banyak sekali bukti yang mnunjukkan bahwa CIA mengadakan kerjasama dengan Dewan Jenderal untuk melengserkan Soekarno dari tampuk kepemimpinan. Negara-negara barat sangat membenci Soekarno karena dinilai membangkang dari politik yang dilancarkan negara-negara barat. Mulai dari pernyataan Soekarno bahwa Indonesia keluar dari PBB, pengumuman perang dngan Malaysia sampai penerimaan konsep komunis yang secara politis memihak blok timur (Uni Sovyet) dan tentu saja menentang blok barat.
Fakta-fakta diatas menampakkan kesimpulan bahwa memang ada fakta bahwa dewan jendral akan melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Soekarno. Atau minimal bila tidak dikatakan demikian, isu akan terjadinya kudeta Dewan Jendral sangatlah kuat. Apalagi dewan Jendral secara terang-terangan menolak paham komunis dan terjadi perang dingin antara Soekarno dengan angkatan darat. Bahkan dalam beberapa buku dikatakan bahwa dewan jendral tidak hanya menerima dukungan dana saja namun senjata juga.
Kegiatan aktual yang dilancarkan CIA semisal koordinasi sangatlah tidak kentara namun Sjam dicurigai sebagai salah seorang intelijen CIA. Namun hampir secara keseluruhan tidak dapat disimpulkan sama sekali bahwa CIA adalah pelaku Gerakan Tiga Puluh September. Justru kalau CIA adalah pelakunya hal itu sangatlah tidak logis karena mereka akan kehilangan tangan utamanya yaitu Dewan Jendral itu sendiri.
Pelaku utama versi orde baru adalah PKI. Sebenarnya kesimpulan itu tidak sepenuhnya salah. Ada beberapa motif yang menyimpulkan hal tersebut. Yang pertama adalah keinginan untuk menancapkan ideologi komunis tetapi mendapat tentangan dari para dewan Jendral. Besarnya Angkatan Darat dalam tubuh pemerintahan, membuat PKI meras takut apalagi Angkatan Darat tidak menyetujui ideologi Komunisme. Yang kedua, dalam paham komunisme militerisme sangat dibenci karena dianggap alat oleh kelas penguasa dalam menindas dan menghegemoni kaum proletar. Dan yang ketiga, Dendam pada militer terutama Angkatan Darat yang membantai orang-orang PKI pada peristiwa Madiun 1948.
Selain itu ada beberapa fakta yang menguatkan bahwa PKI adalah benar-benar pelaku kudeta tersebut. Fakta yang pertama adalah perebutan massa pada saat menjelang pemilu yang sukses besar. Dan fakta yang kedua adalah Perebutan jabatan-jabatan pemerintahan secara perlahan-lahan. Dua hal ini menunjukkan bahwa kekuatan/potensi PKI sedemikian besar sehingga mempunyai keberanian melakukan Gerakan tersebut.
Tapi bila dilihat dari fakta-faktanya, kami simpulkan bahwa PKI sebenarnya adalah korban dari Gerakan ini. Orang-orang PKI yang dikumpulkan dilubang buaya yang merupakan orang-orang desa yang tidak tahu-menahu, sekitar dua bulan sebelumnya sudah dilatih kemiliteran tanpa mengetahui maksud mereka dilatih seperti itu. Meraka dijemput oleh truk-truk setiap saat, latihan perang dan di dogmakan agar menuruti kata-kata pemimpinnya. Pada saat malam satu Oktober itu, mereka juga dijemput seperti biasanya dan dihadapkan adanya musuh yang sebenarnya tanpa tahu siapakah musuhnya. Pernah ada seorang Gerwani hamil yang menanyakan siapakah para korban yang dijadikan latihan militer tersebut. Akibatnya, wanita tersebut langsung ditampar oleh seorang Cakrabirawa.
Ada beberapa fakta-fakta lain yang apabila dihubungkan dengan kesimpulan bahwa PKI adalah pelaku gerakan menjadi tidak masuk akal. Memang benar PKI memiliki massa yang sangat besar yaitu sekitar 15 juta penduduk Indonesia, namun massa sedemikianbesar adalah jumlah pemilih PEMILU yang sebagian besar adalah para buruh dan petani yang tidak tahu apa-apa, tidak mempunyai kekuatan militer, dan apalagi kekuatan

Kemampuan yang dimiliki:
Mempunyai massa sekitar lima  belas juta penduduk.
Dukungan langsung dari presiden Soekarno.

Soekarno:
Motif:        
-      Kebencian pada CIA/Amerika
-      Dukungan pada Nasakom
-      Angkatan darat tidak setuju pada konsep Nasakom sehingga menimbulan konflik.
-      Takut akan otoritas kekuasaannya terganggu karena isu kudeta dewan jendral
-      Mempunyai karakter yang otoriter.
Gerakan aktual:
·       Pembentukan angkatan kelima dengan mempersenjatai buruh dan tani.
·       Keluar dari PBB.
·       Pengumuman perang dengan Malaysia.
·       Pada malam Satu Oktober, Soekarno berada di Halim Perdana Kusuma bersama D.N. Aidit
Kemampuan yang dimiliki:
ð Dukungan masyarakat terutama dari kalangan bawah.
ð Kekuasaan/otoritas tertinggi dinegara dipegang penuh.



Otopsi terhadap mayat menyatakan bahwa para jendral tidak disiksa seperti yang didogmakan selama ini oleh Soeharto.

Entri Populer

Pengikut