Buya Hamka
Serba Otodidak
Adalah
hal yang wajar jika banyak orang menjadi ahli tafsir, sastrawan ataupun ahli
tasawuf dari hasil pendidikan formalnya. Namun hanya segelintir orang seperti
Hamka yang mempelajari semuanya secara
otodidak. Kualitas pemikirannya tidak diragukan. Jika tidak percaya coba
Anda baca Tafsir Al Azhar karya profesor honoris causa ini.
Hamka,
sebutan yang lekat dari nama panjang Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Tokoh berdarah Minang ini
lahir di Maninjau, 16 Pebruari 1908. Para pendahulunya dikenal sebagai ulama
terkemuka. Karim Amrullah, ayahnya adalah ulama sekaligus penulis yang kerap
mengguratkan sajak dan ajaran agama dalam Bahasa Arab dan Indonesia.
Pendidikan
formalnya hanya sampai kelas 3 sekolah dasar, begitu juga dengan sekolah
agamanya. Namun pendidikan singkat tak dapat menghalangi minat dan
keingintahuan, serta kemampuan tingginya dalam berbahasa, untuk membaca dan
mempelajari berbagai hal baru.
Hamka,
sebagaimana diungkap Deliar Noer dalam Membincangkan Tokoh-tokoh Bangsa,
bukanlah orang yang punya keterikatan kuat akan sukunya. Untuknya, yang lebih
penting adalah keterikatan sesama muslim, dan ini bahkan mengalahkan
"rasanya" terhadap bangsa.
Dengan
demikian, andai Hamka masih hidup saat ini, pastilah ia berada di depan
meneriakkan solidaritas umat Islam Indonesia akan nasib muslim Afganisthan,
karena memang Islam tidak mengenal batasan bangsa, tapi keimanan.
Namun
tak berarti kecintaannya terhadap Islam memupuskan jiwa nasionalismenya.
Layaknya pemuda Minang, Hamka pun merantau ke Jakarta (1924) dan Surabaya
dimana ia bergabung dengan organisasi Muhammadiyah dan Syarikat Islam. Di sinilah ia dipengaruhi pemikiran tokoh papan
atas seperti H.O.S
Tjokroaminoto dan Haji
Agus Salim.
Tak
lama, ia pun mulai memasuki dunia tulis. Hamka yang menikah di usia muda dengan
gadis sesukunya kemudian memutuskan pindah ke Medan (1936).
Sebelumnya
ia sempat berdiam di Padang Panjang, bahkan sempat menjadi guru dan mubaligh
Muhammadiyah di Makasar.
Beliau menulis majalah Seruan Islam di
Tanjung Para Langkat. Sekitar tahun 1930 tulisannya sering muncul pada harian
Pembela Islam,Bandung. Tahun 1932, ia sempat menerbitkan majalah Al Mahdi.
Pendeknya, dalam usia kepala dua, Hamka telah berkelana ke Pulau Jawa,
Sumatera, Sulawesi, bahkan Makkah.
Di
Medan-lah tokoh dengan gelar adat "datuk" ini menjadi pemimpin
redaksi mingguan Pedoman Masjarakat hingga 1942. Dalam kurun waktu tersebut,
muncullah karya-karya cemerlangnya seperti Di bawah Lindungan Ka'bah (1938), Merantau ke Deli
(1938), Karena Fitnah (1938) serta Tuan Direktur (1939).
Novel-novelnya
bukanlah novel biasa, tapi mengandung unsur-unsur sejarah, seperti Tenggelamnya
Kapal van der Wijck (1939). Kapal ini tenggelam dalam perjalanan dari Surabaya
ke Semarang pada 20 Oktober 1936, pukul satu dini hari. Hamka mengabadikan
peristiwa naas yang menimpa kapal tersebut, di antaranya dengan mengutip
pernyataan kantor berita Aneta.
"...Sebanyak
43 orang yang celaka telah dipungut pesawat Dornier, 31 orang penumpang
Indonesia ditolong penangkap-penangkap ikan, demikian juga 8 orang Belanda. ...
Stuurman I telah mendarat di dekat Tuban, bersama dengan 20 orang yang lain.
Sesampai di sana, dia telah menelepon ke Surabaya, menerangkan sebab-sebab
tenggelamnya kapal tersebut tidak dapat diketahui, karena kejadian yang ngeri
itu hanya berlangsung selama lima menit..."
Hamka
memang bukan sekedar sastrawan, ia juga sejarawan tangguh. Minatnya terhadap
penulisan sejarah tampak dari karya-karya seperti Dari Perbendaharaan Lama,
ataupun biografi Ayahku (1967) serta
Kenang-kenangan Hidup (1951-1952).
Berbeda
dengan sejarawan lainnya, ia banyak menggunakan sumber-sumber lokal seperti
hikayat atau catatan-catatan tua dalam telaahnya. Data-data tersebut ia olah
dengan hati-hati, karena menurutnya banyak yang tercampur dengan dongeng. Ini
tak berarti Hamka menafikan sumber asing, terutama Belanda. Bahkan ia memuji
kelengkapan data yang dipaparkan penulis Belanda.
Ketika
revolusi fisik terjadi, Hamka ikut bergerak dengan menjadi pimpinan Front
Pertahanan Nasional di Sumatera Barat serta Komandan Badan Pengawal Negeri dan
Kota se-Sumatera Barat.
Setelah
Belanda angkat kaki, Hamka memboyong keluarganya pindah ke Jakarta. Dengan
penanya yang tajam, keberaniannya dalam mengeluarkan pikiran, aktivitasnya
dalam berbagai organisasi sosial politik, ia mendapat gelar doktor kehormatan
dari Universitas Al Azhar, Kairo.
Menjadi
anak tokoh terkemuka di kampung ataupun penulis terkemuka, bukan berarti Hamka
hidup bergelimang kekayaan. Ia bukan anak yang mewarisi kekayaan melimpah dari
orangtua. Keberhasilannya ia mulai dari
nol, ia titi dalam keprihatinan.
Di awal
1960-an badai pun banyak menghantam. Konsistensinya pada ajaran din dan
kebenaran tidak disukai kelompok komunis yang saat itu berada di atas angin.
Fitnah pun mulai menyebar.
Figurnya
sebagai tokoh panutan dianggap cukup membahayakan hingga ia pun dijebloskan ke
penjara pada 27 Januari 1964. Namun ia masih lebih beruntung dibanding Muchtar
Lubis, rekannya sesama novelis, yang sudah ditahan sejak 1956.
Ini
bukan yang pertamakalinya. Di tahun 1962, antek PKI menuduhnya sebagai plagiat
lewat Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Dalam harian Bintang Timur, misalnya,
Abdullah SP dengan jelas menulis "Aku Mendakwa Hamka, Plagiat".
Tak
cukup itu saja, harian ini kemudian membuat kolom khusus "Varia
Hamka". Bahkan, lewat tangan karikaturisnya, Bintang Timur membuat
karikatur yang menggambarkan orang-orang seperti Hamka dan HB. Jassin rontok,
jatuh ke comberan, dan kehilangan mahkotanya satu demi satu (Taufik Ismail,
1995).
Penjara
bukanlah tempat membelenggu pikiran. Walaupun secara fisik Hamka dipukul dan
diberi berbagai siksaan, mata hatinya tetaplah jernih. Di dalam bui, justru mantan Ketua MUI ini melahirkan masterpiece-nya
: Tafsir Al Azhar.
Sekeluarnya
dari penjara, Hamka tetap aktif menulis. Hingga akhir hayatnya tidak kurang
dari 60 buku ia hasilkan, dan beberapa di antaranya bernafaskan tasawuf. Buya
yang seringkali menjentikkan ujung rokok dengan jarinya hingga mengotori sarung
ini bukan termasuk kelompok ikut arus.
Ketika
masyarakat Indonesia beramai-ramai menghujat tasawuf, tokoh Masyumi ini
berbijaksana diri dengan pendapatnya bahwa tasawuf merupakan jalan untuk
mendekatkan diri kepada Tuhan dan tidak bertentangan dengan agama.
Hamka
menghembuskan nafas terakhir pada 24 Juli 1981, dan dimakamkan di TPU Tanah
Kusir, Jakarta. Pertanyaannya, apakah benar tokoh seperti Hamka hanya
dilahirkan 100 tahun sekali?