Halaman

Sabtu, 02 Juli 2016

The Diary Of Melancholy Part 1


The Diary Of Melancholy Part 1
“Perjalanan Sunyi”

Gambar Bus Damri Bandung(Sumber blog sebelah)

           Pernahkah kalian merasakan cinta yang sulit untuk dilupakan? Cinta yang benar-benar melekat dihati bahkan sampai kau tidak pernah bisa melupakannya. Jikalau aku tahu mungkin waktu dan tempat bisa begitu menyiksa hati yang dilanda cinta, mungkin takkan pernah kubiarkan dia pergi dari hidupku. Genggaman cinta ini begitu erat menuntunku untuk merindukannya, meski telah berlalu tiga tahun yang lalu dia pergi dan tak pernah kembali. Siapa sangka bahwa hati berkelana dan tetap menanti.
Kota Bandung adalah kota yang indah, satu hal yang sering kuperhatikan adalah banyak sekali sepasang kekasih yang sedang berpacaran bersebaran di sudut kota, kursi taman, pinggir jalan, dan kampus. Hal yang mungkin sudah biasa kulihat tiap hari di tribun-tribun jalanan. Tentu perasaanku saat melihatnya bercampur aduk, serasa kesal dan juga menyesal karena aku tidak memiliki kekasih seorang pun. Namun bukan berarti aku tidak bisa, melainkan karena aku memiliki komitmen untuk tidak berpacaran lagi setelah kejadian yang menyakitkan ketika masa sekolah dahulu.
Kalender ini mengingatkanku, bahwa sebentar lagi adalah akhir semester genap. Suasana menjelang liburan serasa lebih mencekam untuk para mahasiswa karena menunggu nilai akhir semester muncul di website akademik. Ya, itu adalah kejadian biasa yang sering terjadi di kampusku. Aku kuliah di sebuah kampus kecil di kota Bandung yang selalu ramai saat liburan. Namun bukan berarti setelah dua tahun aku berkuliah di sini tidak merasakan bosan sama sekali. Pasti ada rasa ingin sekali mencicipi kehidupan di kampus tetangga. Berhubung hampir seluruh kampus di Bandung pernah aku kunjungi, tidak salah kan jikalau aku pergi ke kampus di kota lain?
Sekarang sudah minggu akhir bulan Mei, artinya kampus sudah libur dan selesai ujian semester. Aku berpikir untuk melakukan rencana perjalanan ke kampus Depok. Entah kenapa kampus itulah yang pertama kali terlintas di pikiranku, mungkin karena banyak sahabat dan kolega yang kuliah di sana.
Pagi hari aku bersiap-siap dan mengemas barang-barang, pakaian setidaknya cukup untuk menginap minimal tiga malam di Depok. Untuk persiapan aku membeli beberapa snack untuk perjalanan dan sebuah kotak kecil spesial untuk hadiah di pasar Simpang Dago. Setelah itu aku menunggu bus ke arah Leuwipanjang untuk perjalanan langsung ke Depok.
“Cuma kamu,..”
“Dan hanya kamu..”
“Jikalau engkau jadi istriku..”
“Bahagia sampai kau tua..”
Begitulah sebuah peggalan lirik lagu yang aku dengar dari dalam bus yang bersumber dari handphone seorang penumpang. Dan kuperhatikan bahwa itu adalah nada dering telepon milik orang tersebut. Agar tidak mengantuk dalam perjalanan aku memakan snack satu persatu. Tidak disangka akhirnya sampai juga di terminal Leuwipanjang.
Sekarang tepat matahari sudah hampir tepat di atas kepalaku. Meskipun udara di Bandung ini tergolong sejuk dengan cahaya matahari yang terik, udara dari knalpot kendaraan umum membuatku beberapa kali menutup hidung. Aku segera memasuki bus arah Depok. Cukup lama menunggu bus berangkat hampir tiga puluh menit dan akhirnya bus pun berangkat dari terminal. Dalam perjalanan aku memasang headset di telinga dan mendengarkan playlist yang sering aku putar.
“Terlalu manis..”
“Untuk dilupakan..”
“Kenangan yang indah bersamamu..”
“Tinggallah mimpi..”
Lirik nostalgia masa lalu terdengar mengalun di telinga, sebuah lagu dari grup band Slank. Mengingatkanku tentang betapa indahnya kenangan saat kita masih bersama dan belum terpisah seperti saat ini.
(Bersambung Part-2)

SPOILER:

Cerita ini akan membuat pembacanya Baper saat selesai part terakhir.
Karena itu tunggu dan baca postingan berikutnya...