The Diary Of Melancholy Part
1
“Perjalanan Sunyi”
Gambar Bus Damri Bandung(Sumber blog sebelah)
Pernahkah
kalian merasakan cinta yang sulit untuk dilupakan? Cinta yang benar-benar
melekat dihati bahkan sampai kau tidak pernah bisa melupakannya. Jikalau aku
tahu mungkin waktu dan tempat bisa begitu menyiksa hati yang dilanda cinta,
mungkin takkan pernah kubiarkan dia pergi dari hidupku. Genggaman cinta ini
begitu erat menuntunku untuk merindukannya, meski telah berlalu tiga tahun yang
lalu dia pergi dan tak pernah kembali. Siapa sangka bahwa hati berkelana dan
tetap menanti.
Kota Bandung adalah kota yang indah, satu hal yang sering
kuperhatikan adalah banyak sekali sepasang kekasih yang sedang berpacaran
bersebaran di sudut kota, kursi taman, pinggir jalan, dan kampus. Hal yang
mungkin sudah biasa kulihat tiap hari di tribun-tribun jalanan. Tentu
perasaanku saat melihatnya bercampur aduk, serasa kesal dan juga menyesal
karena aku tidak memiliki kekasih seorang pun. Namun bukan berarti aku tidak
bisa, melainkan karena aku memiliki komitmen untuk tidak berpacaran lagi
setelah kejadian yang menyakitkan ketika masa sekolah dahulu.
Kalender ini mengingatkanku, bahwa sebentar lagi adalah
akhir semester genap. Suasana menjelang liburan serasa lebih mencekam untuk
para mahasiswa karena menunggu nilai akhir semester muncul di website akademik.
Ya, itu adalah kejadian biasa yang sering terjadi di kampusku. Aku kuliah di
sebuah kampus kecil di kota Bandung yang selalu ramai saat liburan. Namun bukan
berarti setelah dua tahun aku berkuliah di sini tidak merasakan bosan sama
sekali. Pasti ada rasa ingin sekali mencicipi kehidupan di kampus tetangga.
Berhubung hampir seluruh kampus di Bandung pernah aku kunjungi, tidak salah kan
jikalau aku pergi ke kampus di kota lain?
Sekarang sudah minggu akhir bulan Mei, artinya kampus
sudah libur dan selesai ujian semester. Aku berpikir untuk melakukan rencana
perjalanan ke kampus Depok. Entah kenapa kampus itulah yang pertama kali
terlintas di pikiranku, mungkin karena banyak sahabat dan kolega yang kuliah di
sana.
Pagi hari aku bersiap-siap dan mengemas barang-barang,
pakaian setidaknya cukup untuk menginap minimal tiga malam di Depok. Untuk
persiapan aku membeli beberapa snack untuk perjalanan dan sebuah kotak kecil
spesial untuk hadiah di pasar Simpang Dago. Setelah itu aku menunggu bus ke
arah Leuwipanjang untuk perjalanan langsung ke Depok.
“Cuma kamu,..”
“Dan hanya kamu..”
“Jikalau engkau jadi istriku..”
“Bahagia sampai kau tua..”
Begitulah sebuah peggalan lirik lagu yang aku dengar dari
dalam bus yang bersumber dari handphone seorang penumpang. Dan kuperhatikan
bahwa itu adalah nada dering telepon milik orang tersebut. Agar tidak mengantuk
dalam perjalanan aku memakan snack satu persatu. Tidak disangka akhirnya sampai
juga di terminal Leuwipanjang.
Sekarang tepat matahari sudah hampir tepat di atas
kepalaku. Meskipun udara di Bandung ini tergolong sejuk dengan cahaya matahari
yang terik, udara dari knalpot kendaraan umum membuatku beberapa kali menutup
hidung. Aku segera memasuki bus arah Depok. Cukup lama menunggu bus berangkat
hampir tiga puluh menit dan akhirnya bus pun berangkat dari terminal. Dalam
perjalanan aku memasang headset di telinga dan mendengarkan playlist yang
sering aku putar.
“Terlalu manis..”
“Untuk dilupakan..”
“Kenangan yang indah bersamamu..”
“Tinggallah mimpi..”
Lirik nostalgia masa lalu terdengar mengalun di telinga,
sebuah lagu dari grup band Slank. Mengingatkanku tentang betapa indahnya
kenangan saat kita masih bersama dan belum terpisah seperti saat ini.
(Bersambung Part-2)
SPOILER:
Karena itu tunggu dan baca postingan berikutnya...
